KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA — PT Citra Putra Realty Tbk (kode saham: CLAY) menggelar Paparan Publik Insidentil Tahun 2025 di Auditorium The City Tower, lantai 18, Jakarta, Rabu (24/9/2025). Agenda ini menjadi sorotan karena dilaksanakan setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham CLAY pada 19 September 2025 akibat lonjakan harga saham yang signifikan.
Acara dihadiri jajaran manajemen perseroan, antara lain Direktur Utama Nany Andriani, Direktur Chairul Umaya, serta Corporate Secretary Joko Santoso.
Adapun susunan manajemen perseroan secara keseluruhan terdiri atas Raja Sapta Septian Ervian, S.H., M.Hum. sebagai Komisaris Utama, James Rachmat Subekti sebagai Komisaris Independen, Gories Mere sebagai Komisaris, Nany Andriani sebagai Direktur Utama, serta Chairul Umaya sebagai Direktur.
Public expose dibuka oleh Joko Santoso dengan pembacaan susunan acara, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Direktur Chairul Umaya dan Direktur Utama Nany Andriani. Dalam pemaparannya, Nany menegaskan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut atas permintaan BEI agar perseroan memberikan klarifikasi terbuka. “Kami diminta untuk menyampaikan penjelasan kepada publik sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya.
Nany menekankan bahwa perseroan berkomitmen menjalankan tata kelola perusahaan yang baik dengan tetap menjaga kepercayaan investor. Ia juga menyampaikan visi perusahaan untuk menjadi pengembang dan investor properti terkemuka yang fokus pada kualitas, integritas, dan efisiensi.
Dalam sesi presentasi, manajemen memaparkan kinerja bisnis dan portofolio hotel yang dimiliki CLAY. The Stones Hotel – Bali disebut sebagai penyumbang terbesar pendapatan perusahaan, dengan fasilitas kelas internasional yang meliputi 380 kamar, restoran, bar, ballroom, spa, pusat kebugaran, hingga layanan antar-jemput bandara. Selain itu, perseroan juga mengelola Clay Hotel Jakarta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang berkapasitas 81 kamar dan dilengkapi restoran, business center, serta layanan penunjang lainnya.
“Lebih dari 90 persen pendapatan kami masih berasal dari The Stones Hotel di Bali. Namun kami terus berupaya mendiversifikasi sumber pendapatan agar tidak bergantung pada satu unit bisnis saja,” jelas Nany.
Paparan manajemen juga menyebutkan bahwa meskipun saham CLAY mengalami lonjakan hingga lebih dari 1.200 persen dalam setahun terakhir, kinerja keuangan semester I 2025 masih tertekan. Perseroan mencatat pendapatan konsolidasi Rp53,12 miliar, turun hampir setengah dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp107,03 miliar. Laba kotor menyusut menjadi Rp18,58 miliar, sementara rugi sebelum pajak membengkak menjadi Rp12,25 miliar. Kerugian komprehensif periode berjalan meningkat signifikan menjadi Rp9,65 miliar.
Direktur CLAY, Chairul Umaya, menjelaskan bahwa salah satu faktor penurunan kinerja adalah pengetatan anggaran pemerintah yang berdampak pada kegiatan seremonial, termasuk sektor perhotelan. “Sekitar 20 persen pendapatan kami biasanya berasal dari belanja pemerintah. Namun di tengah kondisi ini kami tetap melakukan langkah strategis untuk memperbaiki kinerja,” ujarnya.
Salah satu langkah yang diambil adalah ekspansi ke sektor layanan kesehatan melalui pembangunan Rumah Sakit Royal Sukadana Pontianak. Chairul menegaskan bahwa ekspansi ini akan menjadi sumber pendapatan berulang baru bagi perusahaan. “Kami tidak berhenti meski menghadapi tekanan. Justru saat inilah kami memperkuat aset agar dapat memberikan hasil positif di masa depan,” tegasnya.
Manajemen menilai strategi diversifikasi bisnis dari perhotelan ke sektor kesehatan merupakan langkah tepat mengingat sektor kesehatan relatif lebih stabil. Selain itu, perusahaan berkomitmen mengoptimalkan pengelolaan hotel eksisting untuk meningkatkan tingkat hunian serta efisiensi biaya.
Di sisi lain, meski kondisi keuangan masih menantang, CLAY menargetkan pendapatan tahun 2025 sebesar Rp218 miliar dengan realisasi sekitar 90 persen. Namun, manajemen belum berencana membagikan dividen karena perusahaan masih mencatatkan kerugian. Fokus utama adalah memperkuat arus kas dan menjaga keberlanjutan usaha.
Public expose ini diakhiri dengan penegasan kembali komitmen perusahaan terhadap keterbukaan informasi. “Kami terbuka kepada pemegang saham dan publik, dan terus menjaga komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Nany.

