KOMPASINDO.CO.ID, ICE BSD CITY, Tangerang, 9 November 2025 – Dalam ajang Penghargaan Arsitektur Banten 2025 yang digelar di Ballroom ICE BSD City, Tangerang, arsitek muda Ar. Emanuel Agung Wicaksono, S.T., M.T., yang juga dosen di Universitas Pelita Harapan, berhasil meraih penghargaan untuk kategori ruang terbuka publik melalui karyanya berjudul Monumen Memorial Relawan Covid-19.
Karya monumental tersebut merupakan hasil kolaborasi antara tim perancang dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tangerang. Monumen ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada para relawan dan tenaga kemanusiaan yang gugur dalam perjuangan melawan pandemi Covid-19.
Dalam wawancara dengan awak media usai menerima penghargaan, Emanuel menjelaskan bahwa monumen tersebut dirancang untuk menjadi ruang refleksi dan penghargaan publik yang sarat makna. Desainnya memadukan simbol tunas bambu dengan bentuk infinity (tak berujung), yang mencerminkan semangat kehidupan, pertumbuhan, dan regenerasi.
“Monumen ini kami rancang agar menjadi ruang terbuka publik yang menyatu dengan lanskap sekitarnya. Bentuk tunas bambu dipilih karena melambangkan pertumbuhan dan kekuatan untuk bangkit, sementara simbol infinity menggambarkan pengorbanan dan semangat yang abadi dari para relawan,” ujar Emanuel.
Ia menambahkan bahwa elemen bambu juga merepresentasikan karakter masyarakat Kabupaten Tangerang yang identik dengan nilai-nilai kerja keras, kebersamaan, dan keterikatan dengan alam. Inspirasi tersebut juga datang dari bentuk anyaman pada logo resmi Kabupaten Tangerang yang menjadi simbol kesatuan dan ketahanan sosial.
Dalam proses pembangunannya, proyek ini menghadapi tantangan waktu yang sangat ketat. Emanuel bersama tim hanya memiliki waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan keseluruhan proses, mulai dari konseptual hingga pembangunan fisik. Namun, dengan dukungan teknologi mutakhir, semua tahapan dapat dilakukan secara presisi dan efisien.
“Kami memanfaatkan teknologi virtual reality menggunakan perangkat Oculus untuk menentukan titik-titik koordinat di lapangan. Dengan metode ini, kami dapat mengatur bentuk kurva dan sudut bangunan yang berbeda-beda secara akurat tanpa menggunakan metode konvensional. Hal ini mempermudah pekerja di lapangan untuk memahami bentuk kompleks yang tidak mudah digambar secara dua dimensi,” jelas Emanuel.
Ia juga menuturkan bahwa pendekatan digital ini menunjukkan bagaimana teknologi tinggi dapat berpadu dengan kearifan lokal dan keterampilan masyarakat dalam membangun karya arsitektur publik. “Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi dan kerajinan lokal bisa bersinergi. Dengan cara kreatif, kita bisa menjembatani yang tinggi dan yang sederhana menjadi satu kesatuan karya yang kuat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Emanuel berharap kehadiran Monumen Memorial Relawan Covid-19 dapat menjadi simbol harapan sekaligus ruang pembelajaran bagi masyarakat tentang nilai pengorbanan, kebersamaan, dan semangat untuk terus tumbuh setelah masa krisis. “Kami ingin monumen ini bukan hanya menjadi bangunan fisik, tapi juga ruang jiwa yang mengingatkan kita bahwa dari kehilangan, selalu tumbuh kehidupan baru,” tutupnya.

