KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menggelar konferensi pers bertajuk “KOWANI Goes to UNESCO” pada Kamis (4/6/2026) di Ruang Malahayati, Kantor KOWANI, Jakarta. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum KOWANI periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, didampingi Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal KOWANI Ratu Dian Afifah, Ketua Koordinator Faradibah Lembang, Wakil Ketua Umum Atiek Sardjana, Melani Suhardi, serta jajaran ketua bidang dan pengurus KOWANI lainnya.
Dalam konferensi pers tersebut, Nannie Hadi Tjahjanto menyampaikan perkembangan program strategis “KOWANI Goes to UNESCO” yang menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan 100 Tahun KOWANI. Program ini bertujuan mendorong pengakuan dunia terhadap arsip dan dokumentasi sejarah perjuangan perempuan Indonesia melalui mekanisme pencatatan warisan dokumenter UNESCO.
Menurut Nannie, dalam bulan Juni 2026 KOWANI bersama para Ketua Umum organisasi anggota yang merupakan pemilik organisasi federasi KOWANI akan melakukan langkah lanjutan dengan membawa berbagai dokumen dan arsip sejarah yang telah berhasil dikumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kami akan bersama-sama datang ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dengan membawa berkas-berkas yang telah kami kumpulkan. Sebagian dokumen saya ambil langsung dari Yogyakarta dan juga dari berbagai organisasi anggota KOWANI. Mohon doa restu dari seluruh masyarakat Indonesia agar dalam rangkaian 100 Tahun KOWANI ini, arsip-arsip KOWANI dapat didaftarkan ke UNESCO,” ujar Nannie Hadi Tjahjanto.
ANRI sebagai Lembaga Pemerintah Nonkementerian yang bertanggung jawab dalam pengelolaan arsip nasional, baik arsip dinamis maupun arsip statis yang menjadi memori kolektif bangsa, akan menjadi mitra penting dalam proses verifikasi dan penguatan dokumen sejarah yang diajukan.
Nannie menegaskan bahwa upaya ini bukan sekadar pencatatan arsip, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara.
“Kita memiliki sejarah panjang tentang perjuangan perempuan-perempuan Indonesia yang gigih memperjuangkan kemajuan bangsa melalui KOWANI. Menjelang usia 100 tahun KOWANI, semangat perjuangan tersebut harus terus kita tingkatkan. Berkat jasa para pendahulu, hari ini kita dapat melanjutkan estafet kepemimpinan dan pengabdian kepada bangsa,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers, untuk turut mengawal dan mendukung program KOWANI Goes to UNESCO agar proses yang sedang dijalankan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi pelestarian sejarah perempuan Indonesia.
“Kami berharap dukungan dari seluruh rekan-rekan wartawan untuk bersama-sama mengawal KOWANI Goes to UNESCO. Semoga seluruh proses ini diberikan kemudahan dan kelancaran sehingga sejarah perjuangan perempuan Indonesia dapat dikenal dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa,” tutup Nannie.
Program KOWANI Goes to UNESCO menjadi salah satu agenda strategis organisasi dalam menyambut satu abad KOWANI, sekaligus memperkuat posisi sejarah gerakan perempuan Indonesia sebagai bagian dari warisan dokumenter yang memiliki nilai penting bagi peradaban dunia.

