KOMPASINDO.CO.ID, ICE BSD CITY – Gelaran International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2025 yang berlangsung pada 17–19 September di Hall 5–7 ICE BSD City menjadi ajang penting bagi berbagai pelaku industri, termasuk sektor hospitality. Dalam kesempatan tersebut, Henry Fitrawan selaku Hubungan Kelembagaan GPHRI di booth A.13B memaparkan visi asosiasi yang relatif baru namun memiliki semangat besar untuk membangun ekosistem hospitality nasional yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Henry menjelaskan bahwa kehadiran asosiasi ini berangkat dari kebutuhan untuk mendorong kolaborasi lebih luas dalam industri hospitality yang meliputi hotel, restoran, dan sektor pendukung pariwisata. “Kami hadir sebagai wadah yang ingin mendorong ekosistem hospitality lebih inklusif dan cakupannya lebih luas. Indonesia ini negara yang sangat beragam, tidak hanya dari sisi makanan, budaya, bahasa, maupun pakaian. Keberagaman ini adalah modal besar untuk memajukan pariwisata dan industri hospitality secara kolektif,” ujarnya dalam wawancara bersama awak media, Kamis (18/9).
Menurutnya, pariwisata dan hospitality adalah dua sektor yang tidak bisa dipisahkan. Dengan 38 provinsi yang masing-masing memiliki kekayaan khas daerah, peluang pertumbuhan industri ini sangat besar. “Setiap daerah punya perbedaan budaya dan kuliner yang khas, ini adalah kekuatan kita. Bila ekosistem hospitality bisa dikembangkan secara bersama, kita tidak hanya membangun industri, tapi juga menghidupkan ekonomi lokal masyarakat di berbagai daerah,” tambah Henry.
Saat ini, asosiasi GPHRI telah menaungi lebih dari 100 anggota dengan ragam produk yang ditampilkan di IFFINA 2025. Mulai dari produk makanan olahan seperti permen, cokelat, dan keju; perlengkapan ibadah; tableware; kitchen equipment; hingga peralatan pendukung lainnya. Kehadiran anggota dengan variasi produk tersebut mencerminkan luasnya cakupan kebutuhan industri hospitality yang tak terbatas pada hotel dan restoran saja, tetapi juga menyentuh berbagai aspek pariwisata dan gaya hidup.
Henry juga menekankan pentingnya sinergi antar asosiasi dan pemangku kepentingan. Beberapa kolaborasi yang sudah terjalin dengan asosiasi lain seperti Asmindo, INAFBC dan ALI menjadi bukti bahwa kerja sama lintas sektor sangat memungkinkan untuk memperkuat rantai pasok dan inovasi produk di bidang hospitality. “Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Tujuan akhirnya adalah agar industri ini semakin maju serta berkontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Selain fokus pada peningkatan kualitas dan ketersediaan produk, GPHRI juga berharap agar pemerintah dapat terus mendorong kebijakan yang pro terhadap pengembangan pariwisata dan industri pendukungnya. Menurut Henry, sektor ini terbukti mampu menjadi penggerak ekonomi, membuka lapangan kerja, serta mendukung pertumbuhan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Partisipasi GPHRI dalam IFFINA 2025 menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan peran asosiasi sekaligus memperluas jejaring dengan pelaku industri lainnya. Kehadiran mereka tidak hanya memperkuat eksistensi industri hospitality, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kolektif dalam mewujudkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata kelas dunia dengan ekosistem hospitality yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

