KOMPASINDO.CO.ID, China Trade Fair Indonesia 2025 resmi dibuka pada Rabu (26/11) di JIExpo Kemayoran Jakarta dan menandai penyelenggaraan satu dekade pameran dagang terbesar China–Indonesia. Larissa Zhou, Managing Director PT Meorient Exhibition International, dalam wawancara usai opening ceremony menyampaikan bahwa pameran tahun ini dirancang untuk memperkuat arus perdagangan, investasi, dan kolaborasi industri antara Indonesia dan berbagai negara.

Larissa Zhou menjelaskan bahwa China Trade Fair Indonesia 2025 menghadirkan peserta dari berbagai negara, mulai dari China, Indonesia, Thailand, hingga Korea Selatan. Keikutsertaan banyak negara ini, kata Larissa, menunjukkan kuatnya minat global terhadap pasar Indonesia yang kini menjadi negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan memiliki proyeksi pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Menurutnya, Meorient memandang Indonesia sebagai pasar strategis yang mampu membuka berbagai potensi kerja sama internasional. Ia mengatakan bahwa platform pameran ini bertujuan menciptakan peluang bisnis baru, memperluas jejaring global, serta menghadirkan teknologi dan inovasi terbaru dari berbagai sektor industri.
Tahun ini, China Trade Fair 2025 menghadirkan beragam sektor unggulan mulai dari kecantikan (beauty and personal care), material bangunan, elektronik, tekstil, olahraga, Teknologi AI, hingga sektor pendidikan. Larissa menambahkan bahwa pameran tahun ini memiliki sejumlah program unggulan yang menjadi sorotan utama, terutama terkait pendidikan dan teknologi.
Salah satu highlight terbesar adalah kehadiran teknologi sistem kelas terbaru berbasis kecerdasan buatan (AI classroom technology) yang dibawa langsung dari China. Teknologi ini ditujukan untuk mendukung percepatan pertumbuhan pendidikan di Indonesia sekaligus menjadi solusi modern untuk digitalisasi pembelajaran.
Selain itu, hadir pula inovasi material bangunan terbaru dari China yang menarik perhatian Wakil Menteri PUPR yang mengunjungi pameran pada hari pembukaan. Material konstruksi terbaru ini disebut mampu menghemat waktu pembangunan rumah secara signifikan, sehingga dinilai memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam industri perumahan Indonesia.
Tidak hanya itu, tahun ini Meorient juga meluncurkan sektor baru yaitu Food & FMCG (Fast-Moving Consumer Goods), yang menghadirkan berbagai produk makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari dari produsen internasional. Peluncuran sektor ini diharapkan dapat membuka peluang distribusi dan kemitraan yang lebih luas dengan pelaku industri pangan Indonesia.
Terkait potensi transaksi, Larissa mengungkapkan bahwa Meorient telah mendatangkan banyak buyer potensial yang datang dengan tujuan membeli dan menjalin kerja sama dengan peserta pameran. Meski jumlah kontrak yang akan ditandatangani belum dapat diperkirakan pada hari pertama, ia optimistis angka transaksi akan signifikan dan akan diumumkan setelah pameran berakhir pada 29 November 2025.
Larissa juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan perluasan penyelenggaraan China Trade Fair ke kota-kota besar lain di Indonesia seperti Surabaya dan sejumlah wilayah potensial di bagian timur dan barat Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki wilayah ekonomi yang sangat luas sehingga peluang penyelenggaraan pameran di berbagai daerah sangat besar untuk dikembangkan. Saat ini Meorient masih melakukan kajian dan riset terkait kota tujuan tersebut sebelum diumumkan secara resmi.
Dengan target lebih dari 45.000 pengunjung, China Trade Fair Indonesia 2025 diharapkan menjadi katalis utama bagi pertumbuhan industri, perdagangan, serta investasi multinasional di Indonesia. Meorient Exhibition meyakini bahwa pameran ini dapat menjadi jembatan kuat bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau pasar global dan menjadi bagian dari rantai pasok internasional.
Pameran berlangsung pada 26–29 November 2025 di JIExpo Kemayoran, menghadirkan ratusan peserta internasional, teknologi terbaru, serta peluang bisnis yang akan memperkuat keberadaan Indonesia dalam peta perdagangan global.

