KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA — Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Mohammad Akbar Djohan, S.H., M.M., menyampaikan pandangan strategis mengenai peran negara, keseimbangan kebijakan, serta pentingnya sinergi antara negara dan pelaku usaha dalam sesi talkshow pada acara talkshow dan launching buku karya Dr. Anggawira yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
Mengawali paparannya, Dr. Mohammad Akbar Djohan menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Dr. Anggawira atas capaian intelektual dan kontribusinya melalui dua buku yang diluncurkan. Ia menilai, meskipun acara tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Dr. Anggawira, substansi kegiatan justru menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor dalam satu forum pemikiran strategis.
“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” ujar Akbar Djohan mengutip pemikiran Insinyur Soekarno. Menurutnya, kutipan tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi para pemikir kebijakan dan pelaku usaha saat ini, khususnya dalam mendorong perubahan sistem dan reformasi ekonomi dari dalam negeri.
Akbar Djohan mengungkapkan bahwa dirinya telah membaca secara menyeluruh dua buku yang diluncurkan dan menilai proses penulisan buku kebijakan bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kedalaman wawasan, ketelitian, serta keberanian intelektual dalam menguji gagasan-gagasan strategis yang dituangkan di dalamnya. Ia menekankan bahwa buku kebijakan harus segera ditindaklanjuti dengan implementasi nyata agar tidak berhenti sebatas wacana.
Dari kedua buku tersebut, Akbar Djohan menarik benang merah mengenai pentingnya keseimbangan peran negara melalui instrumen dan lembaga yang dimilikinya. Ia menguraikan empat fungsi utama negara dalam sistem ekonomi, yakni negara sebagai penyedia (provider) fasilitas publik, negara sebagai pengendali (controller), negara sebagai pelaku usaha (entrepreneur), serta negara sebagai wasit (umpire) dalam menjaga persaingan usaha yang sehat.
Menurutnya, fungsi negara sebagai entrepreneur memiliki peran strategis yang diwujudkan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor swasta, hingga koperasi. Sementara itu, fungsi negara sebagai wasit menjadi krusial dalam menciptakan iklim persaingan usaha yang adil dan berkeadilan, sebagaimana salah satu fokus utama yang diangkat dalam buku Dr. Anggawira.
Dengan latar belakang sebagai entrepreneur sebelum bergabung di BUMN, Akbar Djohan mengakui adanya perbedaan perspektif ketika berada di luar dan di dalam sistem. Pengalamannya di Krakatau Steel mendorong upaya transformasi dan perubahan budaya kerja, khususnya dalam membangun sinergi tidak hanya antar-BUMN dan anak usaha, tetapi juga dengan sektor swasta dan koperasi secara lebih masif.
Ia juga menyinggung implementasi program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendukung ketahanan energi dan pembangunan nasional. Salah satu wujud konkret kontribusi Krakatau Steel adalah pengembangan konsep rumah modular yang digunakan sebagai hunian sementara, klinik darurat, hingga pusat kegiatan masyarakat di daerah terdampak bencana. Program ini telah diimplementasikan, antara lain, di wilayah Aceh dan Sumatera.
Menjelang bulan Ramadan, Akbar Djohan menekankan pentingnya solusi cepat dan nyata bagi masyarakat terdampak, termasuk penyediaan dapur umum dan fasilitas penunjang. Dengan teknologi rumah modular, pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu singkat dan mampu memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat, sejalan dengan target pemerintah untuk menghadirkan ratusan unit dalam waktu dekat.
Menutup pemaparannya, Akbar Djohan menegaskan bahwa semangat sinergi dan kolaborasi harus terus ditunjukkan secara nyata, tidak hanya sebagai konsep, tetapi sebagai gestur dan spirit bersama. Ia menilai pemikiran dalam dua buku Dr. Anggawira memperkaya perspektifnya, baik dalam pengelolaan korporasi maupun dalam perannya di lingkungan organisasi dan kebijakan publik. (Hsn)

