KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 11 Agustus 2026 – PT Remala Abadi Tbk (IDX: DATA) memperkuat komitmennya dalam pembangunan infrastruktur digital Indonesia melalui pengembangan jaringan fiber optik, backbone nasional, konektivitas data center serta layanan internet berkecepatan tinggi dengan harga yang semakin terjangkau.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Remala Abadi Tbk, Agus Setiono, didampingi Chief Technology Officer Sulihno, saat ditemui awak media di booth Remala Abadi pada hari pertama Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Agus menjelaskan, Remala Abadi yang berdiri sejak 2004 pada awalnya lebih banyak menggarap pasar business-to-business (B2B), khususnya menyediakan layanan internet dan konektivitas bagi perusahaan.
“Pada awalnya kami lebih banyak bermain di bisnis to bisnis. Namun, kami melihat ada peluang besar untuk masuk lebih jauh ke masyarakat umum,” ujar Agus.
Seiring meningkatnya kebutuhan internet, Remala mulai memperluas jaringan fiber optik dan mengembangkan layanan ritel. Jabodetabek menjadi salah satu wilayah utama perusahaan, sebelum ekspansi dilanjutkan ke sejumlah kota di Jawa seperti Cirebon, Karawang, Bandung dan Semarang.
Menurut Agus, perusahaan juga terus memperkuat jaringan backbone nasional dan konektivitas internasional, termasuk koneksi Jakarta-Batam-Singapura serta jaringan kabel laut yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya.
“Untuk transport network, kami fokus memperkuat kapasitas besar. Jadi bukan hanya akses internet kepada pelanggan, tetapi juga bagaimana kapasitas jaringan nasional dan internasional terus meningkat,” katanya.
Dalam INTI 2026, Remala memperkenalkan sejumlah solusi infrastruktur digital, antara lain International Private Leased Circuit (IPLC), Metro Local Loop, Data Center Interconnection serta Capacity & IP Transit.
Perusahaan juga mengembangkan layanan internet ritel melalui Nethome.id dengan mengandalkan jaringan fiber optik.
Agus mengatakan, salah satu strategi Remala memasuki pasar ritel adalah menghadirkan layanan internet berkecepatan tinggi dengan harga kompetitif.
“Kami ingin memberikan akses internet berkecepatan tinggi kepada masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Menurutnya, dengan kapasitas jaringan yang besar, perusahaan dapat menawarkan paket internet yang mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun pelaku usaha.
Selain memperluas jaringan, Remala juga mengedepankan kolaborasi dengan berbagai mitra teknologi dan operator. Strategi tersebut dinilai dapat mempercepat pembangunan jaringan sekaligus meningkatkan efisiensi investasi.
“Kami tidak harus membangun seluruh jaringan sendiri. Dengan kolaborasi, kami bisa memanfaatkan jaringan partner sehingga konektivitas menjadi lebih efisien,” jelas Agus.
Di sisi korporasi, Remala Abadi juga memasuki fase baru setelah Grup Djarum melalui PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 51 persen.
Perubahan tersebut membuka peluang sinergi lebih luas dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi dan konektivitas digital.
Dari sisi kinerja, Remala mencatat pendapatan Rp430,34 miliar pada 2025, meningkat dari Rp348,19 miliar pada 2024. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp102,01 miliar.
Pertumbuhan berlanjut pada kuartal I 2026. Pendapatan perusahaan mencapai Rp118,30 miliar, meningkat dari Rp86,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp26,25 miliar.
Sementara itu, Sulihno mengatakan pengembangan jaringan masih akan difokuskan di Pulau Jawa sebelum perusahaan memperluas cakupan ke wilayah lainnya.
“Untuk Jawa, kami masih terus melakukan pengembangan. Setelah jaringan semakin kuat, peluang ekspansi ke Sumatera juga akan kami lihat,” ujar Sulihno.
Ia menambahkan, kepastian regulasi dan kemudahan perizinan menjadi faktor penting dalam mempercepat pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Agus juga berharap pemerintah dapat menghadirkan aturan yang lebih jelas terkait pembangunan jaringan internet, termasuk penataan kabel dan penggunaan infrastruktur bawah tanah.
Menurutnya, pembangunan jaringan digital perlu direncanakan sejak awal agar tidak menimbulkan persoalan penataan infrastruktur di kemudian hari.
“Kalau aturan dan koordinasinya jelas, semua penyelenggara akan lebih mudah mengikuti sehingga pembangunan jaringan bisa lebih terkontrol dan tertata,” katanya.
Lebih jauh, Agus menegaskan bahwa internet bukan sekadar layanan konektivitas. Infrastruktur tersebut dapat menjadi fondasi pengembangan smart city, smart building, smart home dan Internet of Things (IoT).
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memanfaatkan jaringan bukan hanya untuk internet, tetapi juga untuk berbagai aplikasi dan teknologi yang membuat kehidupan menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Melalui penguatan fiber optik, backbone, konektivitas internasional, data center interconnection serta ekspansi layanan ritel, Remala Abadi menargetkan dapat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekosistem digital Indonesia.
“Kami ingin ikut berpartisipasi membangun konektivitas dan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk bisa mengakses seluruh dunia melalui internet,” pungkas Agus.
