Skip to content
KompasIndo
Menu
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu

Aman Agrindo Perkuat Pasar Gula Nasional, Bangun Pabrik Sendiri dan Bidik Pertumbuhan Berkelanjutan 2026

Posted on 19 Juni 2026

KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – PT Aman Agrindo Tbk (GULA) menyampaikan optimisme terhadap prospek pertumbuhan bisnis dan kinerja keuangan sepanjang 2026 dalam agenda Public Expose yang digelar di Jakarta, Jum’at (19/6).

Kegiatan Public Expose ini menjadi sarana bagi perseroan untuk memaparkan perkembangan kinerja keuangan, prospek usaha, strategi bisnis, serta berbagai tantangan yang dihadapi di tengah dinamika industri gula nasional.

Acara dihadiri oleh jajaran manajemen yaitu Direktur Utama Andreas Utomo, serta Direktur Michael Utomo. Dalam kesempatan tersebut, manajemen juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Octen Suhadi telah diangkat sebagai salah satu direktur perseroan.

Direktur  Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo, mengatakan bahwa perseroan terus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, pengembangan pasar, serta penerapan prinsip keberlanjutan dan inovasi guna mendukung pertumbuhan jangka panjang.

PT Aman Agrindo Tbk merupakan perusahaan agribisnis dan perkebunan yang bergerak dalam pengelolaan usaha pertanian serta perdagangan komoditas pertanian. Perseroan berfokus pada pengembangan bisnis yang berkelanjutan dan efisien untuk mendukung kebutuhan pasar domestik.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, perseroan memiliki sejumlah lini bisnis yang saling mendukung. Produk utama yang dipasarkan adalah gula kristal berkualitas tinggi yang tersedia dalam kemasan 50 kilogram dan 1 kilogram. Produk tersebut telah mengantongi Sertifikat Halal serta Standar Nasional Indonesia (SNI).

Selain gula kristal, perseroan juga memperdagangkan gula cair yang telah memiliki sertifikasi halal dari pemasok. Produk gula cair tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan segmen ritel maupun pelanggan bisnis.

Di sektor hulu, Aman Agrindo telah mengembangkan perkebunan tebu di Pandeglang, Banten sejak 2016. Pengalaman dalam budidaya tebu tersebut menjadi salah satu modal penting bagi perseroan untuk membangun industri gula yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Baca Juga:  KOWANI Tegaskan Kepengurusan Hasil Musyawarah Kerja Sah Secara Organisasi dan Hukum, KLB 3 Juni 2026 Dinilai Tidak Memenuhi Ketentuan AD/ART

Dari sisi kinerja keuangan, perseroan mencatatkan pertumbuhan penjualan pada kuartal I 2026. Hingga 31 Maret 2026, penjualan mencapai Rp40,921 miliar, meningkat sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp39,334 miliar. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan penjualan produk gula sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Total aset perseroan per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp220,527 miliar, meningkat sekitar 1 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp217,697 miliar. Peningkatan aset terutama berasal dari kenaikan nilai persediaan pada kuartal pertama 2026.

Sementara itu, total liabilitas perseroan meningkat sekitar 2 persen menjadi Rp75,868 miliar dari Rp74,278 miliar pada akhir 2025. Kenaikan liabilitas tersebut terutama disebabkan oleh bertambahnya utang bank jangka pendek yang digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja.

Di sisi lain, total ekuitas perseroan juga mengalami peningkatan menjadi Rp144,659 miliar dari Rp143,419 miliar pada akhir 2025. Pertumbuhan ekuitas didorong oleh kenaikan laba ditahan yang berasal dari laba bersih perseroan selama kuartal I 2026.

Dari aspek rasio keuangan, margin laba kotor (gross profit margin) tercatat sebesar 8,09 persen, sementara margin laba bersih (net profit margin) berada pada level 0,03 persen. Return on Assets (ROA) tercatat 0,02 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 0,03 persen.

Untuk rasio likuiditas, current ratio berada pada level 1,37 kali, debt to equity ratio sebesar 0,53 kali, dan debt to total assets ratio sebesar 0,35 kali. Manajemen menilai posisi keuangan tersebut masih cukup terjaga untuk mendukung pengembangan usaha ke depan.

Perseroan juga menyampaikan prospek industri gula nasional yang masih menjanjikan. Berdasarkan data pemerintah, kebutuhan konsumsi gula nasional diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia. Pada pertengahan 2025 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 284,4 juta jiwa dan meningkat menjadi sekitar 292,48 juta jiwa pada 2028. Konsumsi gula domestik diperkirakan mencapai 8,03 juta ton sehingga membuka peluang pertumbuhan yang besar bagi pelaku industri gula nasional.

Baca Juga:  BNBA (Bank Bumi Arta Tbk), Kabar Investor Asing Picu Optimisme Harga Saham

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, Aman Agrindo telah menyiapkan sejumlah strategi bisnis. Perseroan akan menawarkan penjualan gula dengan jumlah minimum yang rendah namun tetap kompetitif, memperluas penetrasi pasar segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta ritel, menjaga ketersediaan persediaan guna memenuhi permintaan pelanggan baru, serta membangun pabrik produksi sendiri untuk mewujudkan integrasi bisnis dari sektor hulu hingga hilir.

Dengan integrasi usaha tersebut, perseroan meyakini efisiensi biaya produksi dapat ditingkatkan sehingga berpotensi mendorong profitabilitas yang lebih baik pada masa mendatang.

Meski demikian, manajemen mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, antara lain perubahan teknis dalam proses pembangunan pabrik gula merah yang berpotensi memengaruhi jadwal penyelesaian proyek, fluktuasi harga gula yang sulit diprediksi, serta kondisi perekonomian yang dapat berdampak terhadap daya beli masyarakat dan permintaan pasar.

Kendati menghadapi berbagai tantangan tersebut, manajemen tetap optimistis terhadap prospek usaha perseroan. Optimisme tersebut didukung oleh potensi pertumbuhan industri gula nasional yang masih besar, meningkatnya kebutuhan konsumsi gula domestik, serta progres pengembangan perkebunan dan fasilitas produksi yang sedang dijalankan perusahaan.

Perseroan meyakini bahwa kombinasi strategi ekspansi, efisiensi operasional, penguatan pasar, dan integrasi bisnis akan menjadi fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan kinerja operasional maupun keuangan yang lebih baik sepanjang 2026 dan tahun-tahun berikutnya.

 

Pos Terbaru

  • DPN PERADI Gelar Seminar Internasional, Bahas Jaminan Akuisisi, Asuransi dan Kontrak Konstruksi
  • Mayjen TNI dr. Hadi Juanda Ungkap Capaian Bakti Kesehatan TNI, 76.596 Peserta Terlayani
  • Munaslub AAI 2026 Sepakat Pilih Tjandra Sridjaja Jadi Ketua Umum Periode 2026-2031
  • SANY Bukukan Pesanan Lebih dari 500 Unit Alat Berat di Mining Indonesia 2026
  • Prabowo Soroti Meriahnya HUT PAN ke-28, Singgung Soal Keuangan dan Pesan “Margo Ono”
  • Kapolri: Keberhasilan Polri Bukan Sekadar Penghargaan, tetapi Kepercayaan Masyarakat
  • Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 17 September 2026
  • Lepas Misi Port Visit KRI dr. Wahidin, Menko Polkam Tekankan Kemanusiaan dan Diplomasi
  • PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat
  • Selamat Hari PMI 2026, Dr. Bonar P. Krisnanto: Setetes Kepedulian, Sejuta Harapan
Seedbacklink
©2026 KompasIndo | Design: Newspaperly WordPress Theme