JAKARTA, KOMPASINDO.CO.ID, Rabu, 20 Agustus 2025 – Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, secara resmi membuka Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 ke-2 yang berlangsung pada 20–22 Agustus 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC). Kegiatan ini menjadi ajang penting dalam memperkuat ekosistem industri hijau sekaligus mempercepat langkah Indonesia menuju target net zero emission pada 2050.

Dalam sambutannya, Menperin menegaskan bahwa kesehatan lingkungan merupakan fondasi utama dari keberlanjutan industri nasional. “Transformasi menuju industri hijau jangan dipandang sebagai beban atau biaya tambahan, tetapi harus dilihat sebagai investasi strategis untuk masa depan. Negara wajib hadir untuk memastikan proses ini berjalan,” ujarnya.
Kontribusi Positif Industri Manufaktur
Agus Gumiwang menyampaikan kinerja positif sektor manufaktur sepanjang 2025. Pada triwulan kedua, kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 16,92%, meningkat dibanding periode sama tahun sebelumnya (16,7%).
Selain itu, pertumbuhan industri manufaktur tercatat 5% year-on-year, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5%. Dari sisi ekspor, pada semester pertama 2025, nilai ekspor industri manufaktur mencapai USD 107,6 miliar, atau setara 83% dari total ekspor nasional. Sektor ini juga menyerap lebih dari 19 juta tenaga kerja, menjadikannya tulang punggung perekonomian Indonesia.
Tantangan Transformasi Industri Hijau
Meski capaian positif tersebut menggembirakan, Menperin mengingatkan adanya sejumlah tantangan besar, antara lain:
- Tuntutan global untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.
- Percepatan transisi menuju energi bersih.
- Regulasi perdagangan internasional, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa, yang menambah biaya bagi produk berjejak karbon tinggi.
“Pasar global semakin selektif. Konsumen kini menuntut produk ramah lingkungan dengan jejak karbon yang transparan. Jika tidak cepat bertransformasi, produk Indonesia bisa kehilangan daya saing,” tegas Agus.
Strategi Menuju Net Zero Emission 2050
Kementerian Perindustrian menargetkan net zero emission sektor manufaktur maju 10 tahun lebih cepat, dari 2060 menjadi 2050. Sejumlah langkah konkret disiapkan, di antaranya:
- Efisiensi energi dan penerapan teknologi rendah karbon.
- Pengembangan solusi Carbon Capture Utilization (CCU), yang telah terbukti mampu menangkap hingga 65% emisi CO₂ dalam uji coba bersama PT Petrokimia Gresik.
- Eksplorasi teknologi berbasis mikroalga yang dapat menyerap CO₂ sekaligus menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi seperti biomassa, bioenergi, hingga bahan kosmetik.
- Mendorong ekonomi sirkular, misalnya pengolahan limbah plastik menjadi bahan baku baru, biomassa sebagai energi alternatif, dan daur ulang logam.
“Dengan model circular economy, kita bukan hanya mengurangi polusi, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus Green Jobs,” tambah Menperin.
Ekosistem Ekonomi Hijau Terintegrasi
Sebagai akselerasi, Kemenperin mengembangkan konsep Green Industry Smart Collaboration (GISCO) yang berfungsi sebagai platform terpadu antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, dan penyedia teknologi. GISCO diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi rendah karbon serta membuka akses pembiayaan hijau, termasuk skema blended finance.
“Transformasi hijau adalah investasi. Melalui GISCO, kami ingin seluruh pelaku industri berada pada level yang sama dalam memahami pentingnya keberlanjutan. Dengan dukungan semua pihak, industri Indonesia bisa lebih cepat beradaptasi dibanding negara lain,” pungkas Agus.
Kolaborasi Multi Pihak
Terselenggaranya AIGIS 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Perindustrian dengan mitra strategis, termasuk sektor swasta, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan global. Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi nyata untuk mempercepat transformasi industri nasional menuju era hijau yang berdaya saing. (hw)

