KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 4 Desember 2025 – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan menggelar konferensi pers untuk memaparkan program strategis ekonomi biru periode 2025–2029. Acara ini menghadirkan Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan A. Koswara, Direktur Jasa Bahari Enggar Sadtopo, dan Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Ahmad Aris.
Dalam paparannya, A. Koswara menekankan pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir sebagai fondasi ekonomi biru. Salah satu program unggulan adalah gerakan laut sehat bebas sampah, yang sudah diterapkan di beberapa lokasi, termasuk Muara Kamal dan Mahakam, dengan kolaborasi lintas sektor. Koswara menegaskan, “Program ini fokus pada kesehatan ekosistem yang berdampak langsung pada masyarakat pesisir dan pulau kecil.”
Enggar Sadtopo menjelaskan bahwa pengelolaan jasa bahari diarahkan untuk mendukung nelayan kecil dan pelaku usaha di pesisir, dengan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Sementara Ahmad Aris menyoroti rehabilitasi pesisir dan pulau kecil melalui penanaman mangrove, proteksi pantai, dan revitalisasi kampung nelayan, sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus ekologi.
Dalam sesi tanya jawab, media menyoroti beberapa isu penting. Terkait sampah laut, saat ini diperkirakan masuk 20 juta ton per tahun, dengan 16 juta ton berasal dari daratan. Upaya pengurangan sampah dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan pihak internasional. KKP juga tengah menyiapkan mekanisme pemanfaatan blue carbon sesuai Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025, dengan sistem pengukuran dan registrasi nasional.
Para Narasumber menekankan bahwa program ekonomi biru dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir tanpa mengurangi akses nelayan kecil terhadap sumber daya perikanan. Misalnya, konservasi mangrove membantu ikan berkembang biak sehingga nelayan kecil lebih mudah menangkap ikan, sementara UMKM berbasis jasa bahari dapat tumbuh lebih kuat.
Selain itu, KKP juga memberikan penghargaan bagi nelayan yang berhasil mengumpulkan sampah laut. Setiap lokasi memiliki mekanisme berbeda, seperti di Sumatera Barat sampah dikumpulkan dan dibeli oleh perusahaan untuk digunakan sebagai bahan bakar pengganti batubara.
Konferensi pers ini menegaskan komitmen KKP untuk mengimplementasikan ekonomi biru yang berkelanjutan melalui sinergi lintas sektor, konservasi ekosistem, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

