KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – Habib Muchsin bin Zaid Alattas dalam ceramahnya di pengajian rutin Ahad pagi Majelis Darul Musthofa, Tanjung Duren, Jakarta Selatan, Ahad (31/8), menyampaikan pesan mendalam tentang makna peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia menegaskan bahwa perayaan Maulid merupakan bentuk kegembiraan, rasa cinta, dan syukur umat Islam atas kelahiran Nabi sebagai pembawa risalah dan rahmat bagi seluruh alam.
Dalam tausiyahnya, Habib Muchsin mengutip karya ulama besar seperti Al-Imam Muhammad bin Alwi Al-Maliki yang menegaskan pentingnya umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Kita merayakan Maulid bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi sebagai wujud cinta dan penghormatan kepada Nabi. Dari beliau kita mengenal iman, rukun Islam, rukun iman, hingga syariat yang menjadi pedoman hidup,” ujarnya.
Menurut Habib Muchsin, peringatan Maulid Nabi telah menjadi tradisi mulia di tengah masyarakat Muslim. Hampir dalam setiap momen penting—seperti pernikahan, khitanan, pindahan rumah, hingga acara syukuran—umat Islam senantiasa membuka dengan pembacaan Maulid. Hal ini diyakini sebagai sarana memperoleh keberkahan dari Allah SWT melalui kecintaan kepada Rasulullah.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa mempertanyakan urgensi peringatan Maulid sama halnya dengan meragukan cinta kepada Nabi. “Kalau orang merayakan ulang tahun anak, istri, atau suaminya tidak pernah dipersoalkan, mengapa ketika umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi justru diperdebatkan? Bukankah ini justru tanda cinta kita kepada Rasulullah?” tegasnya.
Habib Muchsin juga mengingatkan bahwa perayaan Maulid Nabi bukanlah bid’ah yang tidak memiliki dasar. Ia mencontohkan, Nabi Muhammad SAW sendiri berpuasa setiap hari Senin sebagai bentuk rasa syukur karena hari itu merupakan hari kelahirannya. Dengan demikian, memperingati kelahiran Nabi adalah amalan yang sejalan dengan sunnah Rasulullah.
Selain sebagai ungkapan cinta, peringatan Maulid juga menjadi sarana edukasi dan dakwah. Melalui pembacaan kitab-kitab Maulid seperti Barzanji, Diba’i, Simtud-Duror, Syaraf al-Anam, maupun Adh-Dhiya’ al-Lami’, umat Islam dapat mengenal sejarah, perjuangan, dan akhlak Rasulullah. “Di dalam Maulid, kita belajar bagaimana Nabi sejak kecil hingga dewasa, perjuangannya dalam dakwah, akhlaknya yang mulia, serta keteladanannya bagi umat. Inilah dalil yang kuat mengapa Maulid harus kita lestarikan,” jelas Habib Muchsin.
Ia juga menyinggung kisah Abu Lahab—paman Nabi yang dicatat dalam Al-Qur’an sebagai penentang Islam. Meski kelak diabadikan sebagai penghuni neraka, riwayat menyebutkan bahwa setiap hari Senin siksaan Abu Lahab diringankan oleh Allah SWT karena ia pernah bergembira menyambut kelahiran keponakannya, Nabi Muhammad SAW. “Jika seorang kafir saja diberi keringanan siksa karena rasa gembiranya atas kelahiran Nabi, apalagi kita sebagai umat Islam yang beriman, tentu Allah akan memberikan kemuliaan yang lebih besar,” paparnya.
Di akhir ceramahnya, Habib Muchsin mengingatkan jamaah untuk terus menumbuhkan rasa cinta dan rindu kepada Rasulullah. Menurutnya, Maulid bukan hanya ritual tahunan, melainkan momentum mempertebal iman, menumbuhkan semangat meneladani akhlak Nabi, serta mempererat ukhuwah di antara sesama Muslim. “Air mata rindu kepada Nabi lebih mulia dari segala gemerlap dunia. Semoga kita semua mendapat syafaat beliau di hari kiamat,” tutupnya.

