KOMPASINDO.CO,ID, JAKARTA – Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (8/12), menjadi momentum penting bagi pemerintah, Partai Gerindra, serta 25 komunitas penyandang disabilitas untuk bersama-sama meneguhkan komitmen membangun ekosistem inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. Mengusung tema nasional “Meneguhkan Terwujudnya Ekosistem Inklusif untuk Pemberdayaan Disabilitas”, acara ini dihadiri Menteri Sosial, Menteri Koperasi dan UMKM, serta Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Gerindra, Hasyim S. Djojohadikusumo.
Acara resmi dibuka oleh Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf. Dalam sambutannya, Mensos menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada Partai Gerindra, khususnya Hasyim Djojohadikusumo, yang dinilainya konsisten memperjuangkan pemenuhan hak penyandang disabilitas sejak bertahun-tahun lalu. Mensos menegaskan bahwa perjuangan Gerindra dan komunitas disabilitas selama ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas utama pembangunan nasional.
Ia menjelaskan kerangka besar Asta Cita Presiden, yang menugaskan negara untuk memastikan kelompok paling rentan memperoleh perlindungan dan afirmasi. Dalam konteks Kemensos, kelompok yang harus “dibela” mencakup fakir miskin, lansia, perempuan korban kekerasan, anak-anak terlantar, hingga penyandang disabilitas. Menurutnya, pemerintah kini bergerak lebih sistematis melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional sebagaimana diamanatkan dalam Inpres 4/2025, sehingga intervensi sosial dapat lebih tepat sasaran. Kemensos juga memulai penerbitan Kartu Registrasi Penyandang Disabilitas yang terintegrasi dengan identitas nasional, dengan lebih dari satu juta kartu telah diterbitkan.
Mensos menambahkan bahwa ekosistem inklusi tidak bisa dibangun oleh pemerintah saja. Ia menyebut Partai Gerindra sebagai salah satu pilar penting karena turut mengawal lahirnya UU Penyandang Disabilitas tahun 2016 serta berkontribusi besar dalam mendorong penyediaan kesempatan kerja dan aksesibilitas di berbagai sektor. Mensos juga memberikan apresiasi kepada 25 organisasi disabilitas yang hadir, sekaligus memuji aksi solidaritas mereka yang berhasil mengumpulkan donasi hingga Rp200 juta untuk korban bencana di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.
Ketua Panitia, dr. Sumarjati Arjoso, S.K.M, dalam laporannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh tokoh nasional, perwakilan partai, komunitas disabilitas, dan undangan yang hadir. Ia menegaskan bahwa acara ini adalah pertemuan tahunan ke-11 yang telah menjadi ruang konsolidasi antara Gerindra dan masyarakat disabilitas di seluruh Indonesia. Tema global tahun ini, “Amplifying Leadership of Persons with Disabilities for an Inclusive and Sustainable Future”, menurutnya harus menjadi dorongan bagi komunitas disabilitas untuk tampil sebagai pemimpin perubahan, bukan sekadar penerima manfaat.
Dr. Sumarjati juga menyoroti data nasional terkait penyandang disabilitas yang masih menghadapi kesenjangan akses pendidikan, kesehatan, hingga pekerjaan. Dari data Susenas 2024, sekitar 28 juta penduduk Indonesia merupakan penyandang disabilitas, namun hanya 4,2 persen yang mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ia menegaskan pentingnya implementasi lebih kuat terhadap UU Nomor 8 Tahun 2016, sekaligus mendorong peran nyata pemerintah dan dunia usaha dalam memastikan kesempatan yang setara. Ia juga mengajak seluruh tamu VIP untuk mendukung UMKM disabilitas yang turut meramaikan acara melalui pameran produk unggulan.
Dalam momentum ini, ia menyampaikan apresiasi khusus kepada Hasyim Djojohadikusumo yang sejak awal memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan acara tersebut. Menurutnya, seluruh pendanaan kegiatan berasal dari kontribusi pribadi Hasyim sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap penyandang disabilitas.
Anggota Komisi Nasional Disabilitas (KND), Fatimah Asri Mutmainnah, turut menyampaikan sambutan yang menegaskan konsistensi Gerindra dalam memperjuangkan isu disabilitas. Menurutnya, dari seluruh partai politik yang pernah mereka dekati dalam rangka sosialisasi dan advokasi, hanya dua partai yang secara konsisten bersuara lantang, salah satunya Gerindra. Ia menekankan pentingnya prioritas aksesibilitas dan akomodasi layak, sebab tanpa itu, kesempatan partisipasi tidak akan pernah terbuka.
Fatimah menyoroti sejumlah persoalan besar seperti keterbatasan akses informasi, minimnya lingkungan kerja yang inklusif, hingga lemahnya penyebaran kebijakan berbasis data. Ia juga mengungkapkan bahwa KND sedang menyiapkan produk pengetahuan “Fiqih Penguatan Disabilitas Mental”, yang diharapkan dapat menjadi rujukan nasional dan membutuhkan dukungan partai politik untuk penyebarannya. Ia juga menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima manfaat, tetapi aktor pembangunan yang harus terlibat dalam penyusunan kebijakan.
Salah satu pesan paling menyentuh datang dari Hasyim S. Djojohadikusumo, yang dalam sambutannya mengingatkan kembali perjalanan panjang perjuangan Gerindra bersama kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Ia mengenang bagaimana pada tahun 2013, ketika Gerindra masih dianggap partai kecil, merekalah fraksi pertama yang membuka pintu bagi kelompok masyarakat yang selama ini kurang diperhatikan. Menurutnya, Gerindra sejak awal didirikan bukan untuk mengejar kekuasaan, tetapi untuk membela rakyat yang paling lemah.
Dalam momen yang membuat seluruh hadirin hening, Hasyim membagikan pengalaman pribadinya mengenai cucunya, Wira Wardana, yang lahir dengan kondisi down syndrome pada 2017. Menurutnya, Tuhan telah mendekatkannya secara emosional kepada perjuangan disabilitas bahkan sebelum ia menyadarinya. Ia menegaskan bahwa pengalaman itu bukanlah beban, melainkan anugerah yang membuatnya semakin mengerti perjuangan komunitas disabilitas.
Hasyim juga menyampaikan bahwa DPP Gerindra telah memasang panduan Braille di lift kantor pusat sebagai bentuk komitmen kecil namun nyata terhadap aksesibilitas. Ia mengapresiasi panitia, terutama Sri Maryati dan Endang, yang berhasil menyelenggarakan acara ini selama 11 tahun berturut-turut. Menurutnya, perjuangan inklusivitas harus terus berlanjut agar tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal.
Ia menutup sambutan dengan menyampaikan tiga makna stanza dalam lagu Indonesia Raya: Indonesia merdeka, Indonesia bahagia, dan Indonesia abadi. Indonesia bahagia, menurutnya, hanya bisa terwujud bila semua rakyat hidup sejahtera, termasuk penyandang disabilitas yang harus memperoleh kesempatan yang adil dalam hidup dan bekerja.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup talkshow dengan doa bersama dan pantun yang dibacakan dr. Sumarjati, yang memantik tepuk tangan panjang para peserta:
Ada pohon tinggi tetap kokoh berdiri
Akar mencengkeram bumi menahan longsor terjadi
Penyandang disabilitas penuh inspirasi
Melangkah pasti menuju mandiri
Dengan semangat kolaborasi, sinergi kebijakan negara, dan dukungan komunitas, Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 di Jakarta menjadi titik penting bagi terwujudnya Indonesia yang lebih setara, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh warganya, tanpa ada yang tertinggal.

