KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 4 Oktober 2025 — Dalam suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan, Forum Purnawirawan Prajurit TNI (FPP-TNI) menggelar acara Silaturahmi Bersama Keluarga Besar Putra/Putri Pahlawan Revolusi di Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani, Jalan Lembang No. 58, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (4/10/2025).
Acara yang mengusung tema “Mengganyang Bahaya Laten PKI, Menjaga Warisan Perjuangan Pahlawan Revolusi” ini dihadiri oleh para purnawirawan TNI, keluarga besar putra-putri pahlawan revolusi, serta tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keutuhan dan keselamatan bangsa. Kegiatan ini juga digelar dalam rangka memperingati peristiwa G30S/PKI yang menjadi sejarah kelam bangsa, sekaligus sebagai momentum untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap Pancasila dan UUD 1945.
Ketua Forum Purnawirawan Prajurit TNI, Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto, usai acara menyampaikan kepada awak media bahwa kegiatan ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga bentuk penghormatan dan doa bagi para Pahlawan Revolusi yang telah gugur mempertahankan kedaulatan negara.
“Saya sampaikan bahwa pertemuan ini sejatinya direncanakan pada tanggal 1 Oktober, bertepatan dengan peringatan Gerakan 30 September PKI. Namun karena satu dan lain hal, acara baru bisa dilaksanakan hari ini. Meskipun begitu, esensinya tetap sama — kita berkumpul untuk mendoakan para Pahlawan Revolusi dan mengingatkan kembali kepada seluruh bangsa tentang bahaya laten PKI yang masih ada hingga kini,” ujar Jenderal Tyasno.
Lebih lanjut, Jenderal Tyasno menekankan pentingnya momentum menjelang HUT ke-80 TNI sebagai saat yang tepat untuk kembali meneguhkan jati diri TNI sesuai dengan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.
“Harapan kami, di usia ke-80 tahun TNI besok, seluruh prajurit mampu kembali pada jati diri sejatinya, yaitu tentara rakyat, tentara pejuang, dan tentara nasional. TNI harus setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, Undang-Undang Dasar 1945 yang asli, dan Pancasila sebagai dasar negara. Jangan pernah lepas dari rakyat, karena TNI lahir dari rakyat, bekerja bersama rakyat, dan berjuang untuk kepentingan rakyat,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa TNI harus tetap menjadi penjaga utama kedaulatan negara, pelindung tanah air, dan pengaman bagi bangsa Indonesia dari segala bentuk ancaman, baik ideologis maupun ekonomi.
“TNI sebagai tentara rakyat dan tentara pejuang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengamankan cita-cita Proklamasi, melindungi bangsa pribumi, menjaga tanah air, dan memastikan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap kokoh berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” tambah Jenderal Tyasno.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi nasional agar tidak dikuasai oleh pihak asing. Menurutnya, makna kemerdekaan sejati bukan hanya dalam politik, tetapi juga dalam kemandirian ekonomi dan penguasaan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat.
“Jangan sampai kekayaan alam kita dikuasai oleh kepentingan asing. Ekonomi nasional harus dikelola oleh bangsa sendiri, untuk rakyat sendiri. Kemerdekaan itu adalah ketika bangsa Indonesia berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Itu hakikat perjuangan yang diwariskan para Pahlawan Revolusi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, FPP-TNI menyerukan agar seluruh rakyat Indonesia terus menjaga kewaspadaan terhadap bahaya laten PKI yang dapat muncul kembali dalam berbagai bentuk baru. FPP-TNI menegaskan bahwa semangat nasionalisme, persatuan, dan loyalitas terhadap Pancasila harus terus digelorakan sebagai benteng bangsa dari ancaman disintegrasi dan ideologi asing.
“Persatuan antara TNI dan rakyat adalah kekuatan utama bangsa ini. Jika TNI dan rakyat bersatu, tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menggoyahkan NKRI. Itulah pesan para pahlawan yang harus kita jaga dan lanjutkan,” pungkas Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto.

