KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA — Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 yang diselenggarakan oleh Partai Gerindra berlangsung meriah dan penuh makna di Ballroom Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (8/12). Mengusung tema Meneguhkan Terwujudnya Ekosistem Inklusif untuk Pemberdayaan Disabilitas, acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari komunitas disabilitas, UMKM, pemerintah, hingga lembaga pemberdayaan masyarakat.
Ketua Panitia, dr. Sumarjati Arjoso, SKM, menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini menekankan pentingnya kolaborasi dan keberlanjutan dalam memperjuangkan hak-hak serta pemberdayaan penyandang disabilitas.
Dalam wawancara bersama awak media, dr. Sumarjati mengatakan bahwa kepedulian terhadap kelompok disabilitas harus diwujudkan dalam bentuk nyata, bukan sekadar wacana. “Gerindra menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap pemberdayaan disabilitas. Kita ingin memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk berkarya, termasuk dalam seni dan bidang lain. Tidak ada perbedaan apakah mereka disabilitas atau bukan, semuanya sama,” ujar Sumarjati.
Ia juga menyoroti fakta bahwa jumlah penyandang disabilitas di Indonesia cukup besar, namun angkanya belum diimbangi dengan tingkat akses terhadap pendidikan dan pemberdayaan. “Kalau merujuk data Susenas, jumlah penyandang disabilitas bisa mencapai lebih dari 78 juta orang. Namun yang mendapatkan akses pendidikan dan pemberdayaan baru sekitar 4–5 persen. Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua,” tegasnya.
Sebagai bentuk solusi, panitia mengundang berbagai sektor yang dinilai paling relevan dan dekat dengan kebutuhan masyarakat, termasuk para pelaku UMKM, komunitas kreatif, hingga Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Tujuannya adalah membuka ruang kolaborasi agar penyandang disabilitas bisa terlibat dalam kegiatan ekonomi yang lebih inklusif.
“Kami ingin memberikan informasi nyata. Ternyata memang masih banyak program yang belum menyentuh masyarakat disabilitas. Melalui acara ini, kami berupaya memberikan penjelasan tentang bagaimana cara mendaftar program, bagaimana menjadi bagian dari pemberdayaan, serta memastikan ada tindak lanjut dari pertemuan hari ini,” jelasnya.
Menurut Sumarjati, terdapat perbedaan mencolok antara peringatan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya adalah posisi Presiden Prabowo Subianto yang kini resmi memimpin Indonesia dengan visi besar terkait pengentasan kemiskinan, pemberdayaan lansia, perempuan, dan disabilitas. Cita-cita presiden yang masuk ke dalam program utama negara, khususnya poin ke-4 dan ke-6, menjadi harapan besar bagi seluruh komunitas disabilitas di Tanah Air.
“Sekarang ini Pak Prabowo sudah menjadi presiden, dan beliau punya cita-cita yang jelas. Harapan kami sebagai panitia adalah agar pertemuan ini bukan sekadar ajang berbicara, tetapi ada tindak lanjut nyata. Program-program kementerian dan lembaga harus benar-benar dijalankan secara kolaboratif. Kolaborasi itu mudah diucapkan, tetapi tidak mudah dilaksanakan,” ungkapnya.
Ia berharap bahwa semua yang disampaikan dalam forum ini dapat diwujudkan menjadi realisasi program yang konkret, terukur, dan dapat dievaluasi secara berkala. “Kami ingin hasilnya bukan hanya dari omongan, tetapi ada angka-angka riil dalam pelaksanaannya, dalam pencapaiannya. Itu yang menjadi harapan kami,” pungkas dr. Sumarjati Arjoso.
Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen nasional dalam menciptakan ekosistem inklusif, membuka peluang ekonomi, serta menghilangkan hambatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang lebih jauh. Dengan hadirnya kolaborasi lintas sektor, diharapkan upaya pemberdayaan disabilitas dapat terus berlanjut, konsisten, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas.

