KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 14 Juni 2026 – Kompetisi Bahasa Mandarin bergengsi tingkat nasional, Chinese Bridge 2026 (Jembatan Bahasa Mandarin), resmi diselenggarakan di Indonesia selama tiga hari, 12–14 Juni 2026, di Ballroom Hotel Merlynn Park, Jakarta. Ajang internasional yang mengusung tema Chinese Show & Chinese Proficiency Competition for Foreign Students ini menjadi wadah bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk menunjukkan kemampuan berbahasa Mandarin sekaligus memperdalam pemahaman terhadap budaya Tiongkok.

Kompetisi ini diikuti oleh peserta terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia yang sebelumnya telah melalui proses seleksi di tingkat daerah. Para peserta berasal dari jenjang sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi, dengan kemampuan yang beragam dalam berbahasa Mandarin, seni pertunjukan, serta pemahaman budaya Tiongkok.
Penyelenggaraan Chinese Bridge 2026 merupakan hasil kerja sama Pusat Kerja Sama dan Pertukaran Bahasa Asing Kementerian Pendidikan Tiongkok dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Indonesia. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga pendidikan dan mitra strategis yang memiliki komitmen dalam memperkuat hubungan pendidikan, budaya, dan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok.
Ketua Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM) Jakarta sekaligus Kepala Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin dan Ketua Panitia Chinese Bridge 2026, Arifin Zain, menjelaskan bahwa tujuan utama penyelenggaraan kompetisi ini bukan sekadar mencari juara, tetapi membangun kesadaran generasi muda Indonesia akan pentingnya menguasai bahasa asing sebagai bekal menghadapi era globalisasi.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong anak-anak Indonesia agar memiliki semangat mempelajari bahasa asing, termasuk bahasa Mandarin. Menguasai lebih dari satu bahasa tidak akan mengurangi rasa cinta kepada Indonesia. Justru keberagaman bahasa dan budaya akan memperkaya wawasan serta memperkuat karakter bangsa yang majemuk,” ujar Arifin Zain usai penutupan acara, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang kaya akan suku, budaya, dan bahasa memiliki modal besar untuk berkembang menjadi bangsa yang semakin maju dan kompetitif di tingkat internasional. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa asing harus dipandang sebagai nilai tambah yang mampu membuka peluang lebih luas bagi generasi muda.
Arifin menegaskan bahwa Chinese Bridge telah menjadi agenda tahunan yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Setiap provinsi diberikan kesempatan untuk mengirimkan peserta terbaiknya ke tingkat nasional sehingga terjadi proses kompetisi yang sehat sekaligus pertukaran budaya antar daerah.
“Peserta yang hadir merupakan wakil-wakil terbaik dari berbagai provinsi. Mereka telah melalui seleksi yang ketat sebelum akhirnya tampil di tingkat nasional. Ini menunjukkan antusiasme yang semakin besar terhadap pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia,” katanya.
Dalam proses penilaian, dewan juri tidak hanya menilai kemampuan berbicara dan penguasaan tata bahasa Mandarin, tetapi juga pemahaman peserta terhadap budaya Tiongkok, keterampilan presentasi, kreativitas, hingga penampilan bakat yang ditampilkan di atas panggung.
Acara puncak Chinese Bridge 2026 turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya perwakilan Kementerian Pendidikan Indonesia, Wakil Menteri Pendidikan, perwakilan Kedutaan Besar RRT untuk Indonesia, pimpinan institusi pendidikan, serta berbagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Lebih lanjut, Arifin menjelaskan bahwa para pemenang tingkat nasional nantinya akan mewakili Indonesia dalam kompetisi Chinese Bridge tingkat internasional yang diselenggarakan di Beijing, Tiongkok. Mereka akan bersaing dengan para juara dari berbagai negara di dunia.
“Peserta yang berhasil menjadi juara nasional akan mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia di Beijing untuk mengikuti Chinese Bridge tingkat internasional. Ini menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus peluang besar untuk menunjukkan kemampuan generasi muda Indonesia di panggung dunia,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah mencatat prestasi membanggakan dalam ajang Chinese Bridge tingkat internasional dengan meraih posisi terbaik di kawasan Asia. Prestasi tersebut diharapkan dapat kembali diraih melalui pembinaan yang berkelanjutan terhadap para peserta.
Menurut Arifin, penguasaan bahasa Mandarin saat ini menjadi salah satu kompetensi penting mengingat posisi Tiongkok sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Mandarin tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap identitas nasional.
“Bahasa adalah alat komunikasi dan sarana untuk belajar. Semakin banyak bahasa yang dikuasai seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk memperoleh ilmu pengetahuan, memperluas jaringan, dan meningkatkan daya saing. Yang terpenting adalah tetap mencintai bahasa Indonesia dan menjaga identitas bangsa,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan Chinese Bridge 2026, BKPBM berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang termotivasi untuk mempelajari bahasa asing, memperluas wawasan internasional, serta menjadi jembatan persahabatan antarbangsa di masa depan.
“Harapan kami, anak-anak Indonesia semakin rajin belajar bahasa asing. Dengan menguasai berbagai bahasa, mereka akan memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia di tingkat global,” pungkas Arifin Zain.
Chinese Bridge 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi bahasa, tetapi juga menjadi simbol penting penguatan kerja sama pendidikan dan pertukaran budaya antara Indonesia dan Tiongkok, sekaligus membuktikan bahwa keberagaman bahasa dan budaya merupakan kekuatan yang dapat membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya saing global.

