Skip to content
KompasIndo
Menu
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu

Prof. Dr. Nandan Limakrisna Tawarkan Snowball Business Model untuk Perkuat Koperasi Desa Merah Putih Pemerintahan Prabowo

Posted on 17 Agustus 2026

KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA — Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi salah satu agenda strategis pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong penguatan ekonomi kerakyatan dari tingkat desa.

Program tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen penggerak ekonomi masyarakat apabila tidak hanya berorientasi pada pembangunan kelembagaan dan penyediaan modal, tetapi juga mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. Nandan Limakrisna menawarkan sebuah pendekatan yang dikembangkannya, yakni Snowball Business Model (SBM), sebagai salah satu alternatif model pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Menurut Nandan, modal besar dan pembangunan infrastruktur koperasi memang merupakan bagian penting dalam membangun fondasi KDKMP. Namun, modal dan fasilitas tersebut tidak otomatis menjamin keberhasilan koperasi.

“Koperasi dapat memiliki gedung, gudang, kendaraan, toko, modal kerja, bahkan akses pembiayaan. Tetapi apabila anggota tidak aktif melakukan transaksi ekonomi melalui koperasi, semua fasilitas tersebut berisiko menjadi aset yang tidak produktif,” ujar Prof. Dr. Nandan Limakrisna.

Karena itu, menurutnya, tantangan utama KDKMP bukan semata-mata bagaimana mendirikan koperasi, tetapi bagaimana memastikan koperasi tersebut benar-benar hidup, memiliki aktivitas transaksi, menghasilkan cash flow, menciptakan nilai tambah, serta meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

Koperasi Harus Menjadi Mesin Ekonomi Desa

Nandan menjelaskan, koperasi tidak boleh hanya dipandang sebagai lembaga yang memiliki anggota secara administratif. Anggota harus menjadi bagian aktif dari seluruh aktivitas ekonomi koperasi.

Dalam konsep Snowball Business Model, anggota memiliki tiga peran utama, yakni sebagai produsen, konsumen, dan promotor.

Sebagai produsen, anggota koperasi yang terdiri dari petani, peternak, nelayan, pengrajin, pelaku UMKM, dan berbagai pelaku ekonomi desa lainnya dapat menjadi sumber produksi bagi koperasi.

Produk yang dihasilkan anggota dapat dikumpulkan atau diagregasi oleh koperasi, kemudian dipasarkan dengan skala ekonomi yang lebih besar.

“Koperasi tidak sekadar menjadi tempat membeli barang dari luar desa. Koperasi harus menjadi off-taker dan agregator produk anggota,” jelasnya.

Dengan fungsi tersebut, koperasi diharapkan dapat memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan posisi tawar para produsen di desa.

Peran kedua adalah anggota sebagai konsumen.

Menurut Nandan, anggota koperasi juga merupakan pasar utama koperasi. Berbagai kebutuhan sehari-hari, sarana produksi pertanian, kebutuhan rumah tangga, hingga layanan ekonomi lainnya dapat sedapat mungkin dipenuhi melalui koperasi.

Ketika anggota melakukan transaksi pembelian melalui koperasi, perputaran uang dapat dipertahankan lebih lama di dalam ekosistem ekonomi desa.

Uang tersebut kemudian dapat digunakan kembali untuk membeli produk anggota, membayar jasa, membiayai operasional koperasi, maupun mengembangkan unit usaha baru.

Sementara itu, peran ketiga adalah anggota sebagai promotor.

Baca Juga:  Eks Sekda Balangan Gugat Status Tersangka, Gandeng Kamarudin Simanjuntak

Nandan menilai aspek tersebut sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam pengembangan koperasi.

Anggota harus menjadi pihak pertama yang memperkenalkan produk dan layanan koperasinya kepada masyarakat. Anggota juga dapat berperan mengajak masyarakat lain menjadi anggota, memperluas pasar, serta membangun reputasi koperasi.

Dengan demikian, pertumbuhan koperasi tidak semata-mata bergantung pada anggaran promosi pengelola, tetapi juga dapat berkembang melalui jaringan sosial para anggotanya.

Membangun Siklus Ekonomi yang Terus Berputar

Ketiga peran tersebut, menurut Nandan, membentuk sebuah siklus ekonomi yang menjadi inti dari Snowball Business Model.

PRODUSEN → KOPERASI → KONSUMEN → TRANSAKSI → NILAI TAMBAH → ANGGOTA → PROMOTOR → PASAR BERTAMBAH → PRODUKSI BERTAMBAH → KOPERASI

Siklus tersebut diharapkan terus berulang dan menghasilkan efek bola salju atau snowball effect.

Menurut Nandan, bola salju tidak menjadi besar hanya karena satu kali didorong. Bola salju menjadi besar karena terus bergerak.

Analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana aktivitas ekonomi koperasi dapat terus berkembang apabila terdapat transaksi yang berulang, anggota yang aktif, pasar yang semakin luas, serta produksi anggota yang terus meningkat.

Dengan pendekatan tersebut, koperasi tidak hanya menjadi tempat penyimpanan atau penyaluran modal, tetapi menjadi mesin ekonomi yang terus menghasilkan perputaran usaha.

Komitmen dan Kepercayaan Menjadi Fondasi

Nandan menegaskan bahwa Snowball Business Model memiliki dua fondasi utama, yaitu komitmen dan kepercayaan.

Komitmen diperlukan agar anggota benar-benar menjalankan aktivitas ekonominya melalui koperasi.

Petani, misalnya, memiliki komitmen untuk memasok produk. Anggota lainnya berkomitmen menjadi konsumen. Pada saat yang sama, anggota juga dapat berperan mempromosikan koperasi dan produknya.

“Tanpa komitmen, transaksi akan bocor keluar,” katanya.

Selain komitmen, kepercayaan menjadi modal sosial yang sangat penting.

Anggota harus percaya bahwa koperasi dikelola secara profesional, transparan, adil, dan memberikan manfaat nyata.

Sebaliknya, pengurus koperasi juga harus memiliki kepercayaan terhadap anggota bahwa komitmen yang telah dibangun dapat dijalankan secara konsisten.

Dalam kerangka tersebut, trust capital atau modal kepercayaan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan financial capital atau modal finansial.

Keberhasilan KDKMP Tidak Cukup Diukur dari Jumlah Koperasi

Nandan menilai keberhasilan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan jumlah koperasi yang telah dibentuk atau besarnya modal yang telah disalurkan.

Menurutnya, indikator yang jauh lebih penting adalah seberapa besar aktivitas ekonomi yang benar-benar terjadi di dalam koperasi.

Beberapa pertanyaan penting yang perlu menjadi indikator evaluasi antara lain berapa banyak anggota yang benar-benar aktif, berapa besar produk anggota yang diserap koperasi, berapa besar kebutuhan anggota yang dipenuhi koperasi, berapa besar omzet koperasi, berapa kali modal berputar, serta berapa besar nilai tambah yang berhasil dipertahankan di desa.

Baca Juga:  IFRA Business Expo 2025 Hadir Dua Kali, Tawarkan Semesta Peluang Bisnis Tak Terbatas

Yang tidak kalah penting adalah apakah aktivitas koperasi tersebut mampu meningkatkan pendapatan anggotanya.

Jika berbagai indikator tersebut mengalami pertumbuhan, maka koperasi dapat dikatakan semakin hidup dan berkembang.

Sebaliknya, apabila pembangunan fisik telah dilakukan tetapi aktivitas transaksi masih rendah, maka perlu dilakukan evaluasi agar koperasi tidak berhenti sebagai lembaga administratif.

Modal Adalah Bahan Bakar, Bukan Mesin

Nandan mengakui bahwa dukungan modal pemerintah merupakan bagian penting dalam membangun KDKMP.

Namun, ia mengingatkan bahwa modal pada dasarnya hanyalah bahan bakar atau fuel. Modal bukanlah mesin itu sendiri.

Mesin ekonomi tetap membutuhkan model bisnis, pasar, sumber daya manusia, tata kelola, serta aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Bahkan, menurutnya, modal yang besar dapat menjadi beban apabila tidak mampu menghasilkan cash flow yang sehat.

Karena itu, KDKMP perlu memasuki tahapan berikutnya, yaitu dari pembangunan kelembagaan menuju pembangunan ekosistem bisnis anggota.

“Koperasi jangan hanya menjadi tempat menyalurkan modal. Koperasi harus menjadi tempat modal tersebut berputar dan menghasilkan nilai tambah,” ujarnya.

Usulkan Pilot Project Snowball Business Model

Nandan tidak mengusulkan agar seluruh KDKMP langsung menerapkan Snowball Business Model.

Menurutnya, pendekatan yang lebih ilmiah adalah menguji konsep tersebut melalui pilot project.

Pemerintah dapat memilih sejumlah KDKMP yang memiliki karakteristik wilayah dan potensi ekonomi berbeda. Selanjutnya, prinsip SBM diterapkan dalam periode enam hingga dua belas bulan.

Hasilnya kemudian dapat dibandingkan dengan koperasi yang menggunakan pola pengelolaan konvensional.

Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pilot project tersebut antara lain pertumbuhan anggota aktif, volume transaksi, penyerapan produk anggota, pembelian anggota, pertumbuhan omzet, perputaran modal, pertumbuhan pendapatan anggota, serta tingkat kepercayaan anggota terhadap koperasi.

Jika hasil pengujian menunjukkan dampak positif dan konsisten, model tersebut dapat dikembangkan dan direplikasi pada wilayah lainnya.

Menurut Nandan, pendekatan berbasis pengujian tersebut penting karena program KDKMP memiliki skala yang sangat besar.

Peningkatan aktivitas ekonomi dalam skala kecil pada setiap koperasi, apabila terjadi secara konsisten dan kemudian dikalikan dengan jumlah koperasi yang besar, dapat menghasilkan dampak agregat yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

Dari Koperasi Desa Menjadi Mesin Ekonomi Desa

Nandan menilai visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Koperasi Merah Putih sebagai kekuatan ekonomi baru di tingkat desa merupakan langkah strategis.

Namun, visi tersebut perlu diikuti dengan model bisnis yang mampu memastikan koperasi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  PT Virtus Technology Indonesia Hadirkan DJI Enterprise untuk Perkuat Teknologi Drone Industri di Adexco 2026

“Kita harus memastikan bahwa KDKMP tidak berhenti sebagai proyek kelembagaan. KDKMP harus menjadi gerakan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, gerakan ekonomi hanya dapat hidup apabila manusia yang berada di dalamnya aktif bergerak.

Karena itu, formulasi Snowball Business Model menempatkan anggota sebagai pusat aktivitas ekonomi:

ANGGOTA = PRODUSEN + KONSUMEN + PROMOTOR

Ketiga peran tersebut kemudian ditopang oleh dua fondasi utama:

KOMITMEN + KEPERCAYAAN

Selanjutnya, aktivitas ekonomi tersebut diputar secara terus-menerus:

TRANSAKSI → CASH FLOW → NILAI TAMBAH → MODAL → PRODUKSI → PASAR → TRANSAKSI YANG LEBIH BESAR

Menurut Nandan, rangkaian tersebut merupakan inti dari Snowball Business Model.

Tawaran untuk Pengembangan KDKMP

Nandan menegaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih merupakan program yang terlalu strategis untuk hanya mengandalkan pendekatan administratif.

KDKMP membutuhkan inovasi model bisnis yang dapat diuji, diukur, dievaluasi, dan diperbaiki berdasarkan data.

Karena itu, ia menawarkan Snowball Business Model sebagai salah satu alternatif model pengembangan KDKMP.

“Saya siap memberikan gagasan, rancangan model, pendampingan, dan melakukan pilot project SBM apabila pemerintah memberikan ruang untuk mengujinya,” kata Nandan.

Ia menegaskan bahwa tawaran tersebut bukan semata-mata untuk terlibat dalam sebuah program, tetapi didasarkan pada keyakinan bahwa gagasan ekonomi kerakyatan harus dapat dibuktikan melalui implementasi nyata di lapangan.

Menurutnya, konsep ekonomi kerakyatan tidak cukup berhenti pada gagasan. Model tersebut harus diuji untuk melihat apakah mampu menghasilkan transaksi, cash flow, nilai tambah, pertumbuhan usaha, dan peningkatan pendapatan anggota.

“Koperasi Merah Putih jangan hanya menjadi koperasi yang didirikan di desa. Koperasi Merah Putih harus menjadi ekonomi desa yang hidup,” tegasnya.

Membangun Mesin Ekonomi Kerakyatan Indonesia

Pada akhirnya, Nandan melihat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih bukan sekadar sebagai pembangunan kelembagaan koperasi, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun mesin ekonomi kerakyatan Indonesia dari tingkat paling bawah.

Ketika aktivitas ekonomi dimulai dari satu anggota, berkembang menjadi aktivitas satu koperasi, kemudian bergerak dari satu desa ke ribuan desa, maka dampaknya berpotensi berkembang menjadi gerakan ekonomi dalam skala nasional.

Menurutnya, kekuatan KDKMP bukan hanya terletak pada besarnya modal yang disediakan, tetapi pada kemampuan koperasi menggerakkan modal tersebut melalui aktivitas ekonomi masyarakat.

“Ketika bola salju mulai bergerak dari satu anggota, kemudian ke satu koperasi, dari satu desa ke ribuan desa, dan akhirnya menjadi gerakan ekonomi nasional, kita bukan sekadar sedang membangun koperasi. Kita sedang membangun mesin ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Prof. Dr. Nandan Limakrisna.

Prof. Dr. Nandan Limakrisna
Penggagas Snowball Business Model (SBM)

Pos Terbaru

  • DPN PERADI Gelar Seminar Internasional, Bahas Jaminan Akuisisi, Asuransi dan Kontrak Konstruksi
  • Mayjen TNI dr. Hadi Juanda Ungkap Capaian Bakti Kesehatan TNI, 76.596 Peserta Terlayani
  • Munaslub AAI 2026 Sepakat Pilih Tjandra Sridjaja Jadi Ketua Umum Periode 2026-2031
  • SANY Bukukan Pesanan Lebih dari 500 Unit Alat Berat di Mining Indonesia 2026
  • Prabowo Soroti Meriahnya HUT PAN ke-28, Singgung Soal Keuangan dan Pesan “Margo Ono”
  • Kapolri: Keberhasilan Polri Bukan Sekadar Penghargaan, tetapi Kepercayaan Masyarakat
  • Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 17 September 2026
  • Lepas Misi Port Visit KRI dr. Wahidin, Menko Polkam Tekankan Kemanusiaan dan Diplomasi
  • PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat
  • Selamat Hari PMI 2026, Dr. Bonar P. Krisnanto: Setetes Kepedulian, Sejuta Harapan
Seedbacklink
©2026 KompasIndo | Design: Newspaperly WordPress Theme