KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – PT Aman Agrindo Tbk (GULA) mulai memasuki fase ekspansi baru dengan mengembangkan sejumlah proyek yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat rantai pasok industri gula nasional.
Emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tersebut tengah menyiapkan tiga proyek utama di Pandeglang, Banten, Sragen, Jawa Tengah, dan Riau. Pengembangan proyek dilakukan secara bertahap dan diharapkan mulai memberikan kontribusi terhadap kegiatan operasional perseroan pada 2026.
Langkah ekspansi tersebut menunjukkan perubahan fokus bisnis Aman Agrindo dari sekadar pengembangan perkebunan dan perdagangan gula menuju penguatan kapasitas pengolahan yang terintegrasi dengan ketersediaan bahan baku.
Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk Andreas Utomo mengatakan, perseroan memiliki pengalaman panjang dalam industri gula sebelum akhirnya mencatatkan sahamnya di pasar modal.
“Industri gula memiliki prospek jangka panjang yang baik. Saat ini kami memasuki tahapan pengembangan kapasitas produksi agar kontribusi perseroan terhadap industri gula nasional dapat semakin besar,” ujar Andreas dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Aman Agrindo mulai membangun bisnisnya pada 2013. Pengembangan perkebunan tebu di Pandeglang dimulai pada 2017, sedangkan kegiatan perdagangan gula diperluas pada 2020.
Kini, perseroan mengarahkan strategi pertumbuhan pada penguatan sektor hulu dan hilir secara bersamaan.
Pabrik Gula Pandeglang Ditargetkan Rampung 2026
Proyek pertama berlokasi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Aman Agrindo sedang membangun fasilitas pabrik gula baru yang ditargetkan dapat diselesaikan pada kuartal IV 2026.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas giling 500 ton tebu per hari. Untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku, perseroan juga menyiapkan pengembangan perkebunan menggunakan pola inti dan plasma.
Pada tahap awal, areal yang diproyeksikan mencapai 1.250 hektare. Dalam pengembangan berikutnya, kawasan perkebunan tersebut berpotensi diperluas hingga sekitar 15.000 hektare.
Dengan kombinasi pabrik dan perkebunan, proyek Pandeglang diharapkan menjadi salah satu fondasi utama peningkatan kapasitas produksi Aman Agrindo.
Akuisisi Pabrik di Sragen
Ekspansi berikutnya diarahkan ke Sragen, Jawa Tengah. Di wilayah tersebut, perseroan tengah mempersiapkan rencana akuisisi sebuah pabrik gula merah yang telah beroperasi.
Pabrik yang akan diakuisisi mempunyai kapasitas giling sekitar 1.000 ton tebu per hari. Salah satu karakteristik utama fasilitas tersebut adalah pasokan tebu yang berasal dari petani melalui pola kemitraan plasma.
Nilai transaksi akuisisi diperkirakan mencapai sekitar Rp350 miliar.
Jika terealisasi, langkah tersebut akan memperluas kapasitas pengolahan sekaligus memperkuat hubungan perseroan dengan petani sebagai pemasok bahan baku.
Riau Dikembangkan Jadi Basis Pengolahan Raw Sugar
Sementara itu, proyek ketiga berada di Riau. Aman Agrindo mengembangkan fasilitas yang akan mengolah raw sugar menjadi gula kristal putih dengan kapasitas sekitar 600 ton per hari.
Proyek tersebut juga memiliki prospek pengembangan perkebunan tebu yang diperkirakan mencapai 5.140 hektare.
Dengan demikian, tiga proyek yang dikembangkan perseroan memiliki karakter berbeda namun berada dalam satu strategi besar, yakni memperbesar kapasitas produksi dan membangun mata rantai industri gula yang lebih terintegrasi.
Andreas mengatakan, pengembangan tersebut bukan hanya ditujukan untuk mengejar pertumbuhan produksi, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang saling terhubung.
“Ketiga proyek ini merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat kapasitas produksi secara bertahap sekaligus membangun ekosistem gula yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” kata Andreas.
Penggunaan Dana IPO Capai 98 Persen
Di sisi pendanaan, Aman Agrindo juga terus merealisasikan penggunaan dana yang diperoleh ketika melakukan IPO pada Agustus 2022.
Hingga 30 Juni 2026, perseroan telah menggunakan sekitar Rp49,13 miliar dari total dana hasil penawaran umum bersih sebesar Rp50,34 miliar.
Dengan demikian, tingkat realisasi penggunaan dana IPO telah mencapai sekitar 98 persen.
Dana tersebut antara lain digunakan untuk pembangunan pabrik dan fasilitas pendukung serta pembayaran uang muka pembelian instalasi mesin.
Adapun sekitar Rp1,22 miliar dana yang belum digunakan masih ditempatkan pada instrumen perbankan dan akan dimanfaatkan sesuai dengan rencana perseroan.
Andreas menegaskan, penggunaan dana hasil IPO akan tetap dilakukan dengan memperhatikan prinsip transparansi dan ketepatan sasaran.
“Kami berkomitmen menjalankan seluruh rencana penggunaan dana secara transparan dan tepat sasaran agar dapat memberikan nilai tambah bagi perseroan maupun pemegang saham,” ujarnya.
Perkuat Peran dalam Swasembada Gula
PT Aman Agrindo Tbk didirikan pada 2013 dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Agustus 2022 dengan kode saham GULA.
Bisnis perseroan mencakup pengembangan perkebunan tebu dan pengolahan gula. Di Pandeglang, perseroan telah memiliki perkebunan inti sekitar 83 hektare dan mengembangkan pola kemitraan dengan petani tebu yang ditargetkan mencapai 1.000 hektare.
Dengan penambahan kapasitas pabrik, pengembangan perkebunan, serta rencana akuisisi dan pembangunan fasilitas pengolahan, Aman Agrindo berupaya memperbesar skala bisnisnya di tengah kebutuhan gula nasional yang terus menjadi perhatian.
Ekspansi tersebut sekaligus menempatkan perseroan pada posisi yang lebih strategis dalam mendukung penguatan industri gula domestik dan agenda swasembada gula Indonesia.
