KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – Brand fashion lokal DEV Indonesia ikut ambil bagian dalam Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2022 yang digelar dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-70. Pameran yang berlangsung di Hall B Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, ini diselenggarakan pada 11–14 Agustus 2022 dan menghadirkan beragam produk unggulan dari Pengurus Daerah (PD) Bhayangkari seluruh Indonesia.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah DEV Indonesia Fashion Bag, merek tas karya Devi Jamal Farti dari PD Bhayangkari Sulawesi Selatan. Dalam kesempatan tersebut, Devi mengaku bangga dapat memperkenalkan hasil karya anak bangsa melalui ajang yang menjadi wadah promosi produk-produk UMKM binaan Bhayangkari.
“Sebagai Bhayangkari dari Sulawesi Selatan, saya membawa produk tas hasil produksi sendiri dengan merek DEV Indonesia. Tas-tas ini dibuat menggunakan kain wastra Indonesia, mulai dari motif batik, bordir wayang, hingga kain wastra khas Sulawesi Selatan. Usaha ini sudah saya jalankan hampir lima tahun,” ujar Devi.
Istri Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol. Jamaluddin Farti, tersebut menjelaskan bahwa DEV Indonesia berkomitmen mengangkat kekayaan budaya Indonesia melalui produk fesyen yang memiliki nilai seni sekaligus mengikuti tren modern.
Sebelum pandemi COVID-19, DEV Indonesia juga telah beberapa kali mengikuti berbagai pameran fesyen internasional, di antaranya Hong Kong Fashion Week, pameran di Singapura, Thailand, dan Malaysia, serta ajang INACRAFT di Jakarta.
Menurut Devi, harga tas produksi DEV Indonesia dibanderol mulai dari Rp750 ribu hingga Rp2,3 juta, bergantung pada jenis bahan, desain, serta motif yang digunakan.
Pada hari pertama penyelenggaraan pameran, antusiasme pengunjung dinilai cukup tinggi. Ia melihat minat masyarakat terhadap produk berbahan kain wastra Indonesia terus meningkat, termasuk dari kalangan generasi muda yang mulai menjadikan produk lokal sebagai bagian dari gaya hidup.
“Alhamdulillah, respons pengunjung sangat baik. Saat ini banyak orang mulai menyukai produk berbahan kain wastra Indonesia dibandingkan bahan impor. Bahkan anak-anak muda juga semakin tertarik menggunakan produk lokal,” katanya.
Devi mengungkapkan, ide mengembangkan DEV Indonesia berawal dari keinginannya menghadirkan desain tas batik yang lebih modern dan tidak monoton. Dengan memadukan teknik bordir, permainan warna, serta sentuhan desain kontemporer, ia berharap produk berbasis budaya Indonesia dapat diterima lebih luas oleh berbagai kalangan.
Ia juga menilai semangat untuk memajukan UMKM lokal sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong produk dalam negeri agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Ke depan, Devi berharap DEV Indonesia dapat terus berkembang hingga menembus pasar mancanegara serta semakin banyak masyarakat yang bangga menggunakan produk-produk lokal berbahan kain wastra Indonesia.

