KOMPASINDO.CO.ID, Jakarta – Partnership for Action Against Child Labour in Agriculture (PAACLA) atau Kemitraan untuk Aksi Penanggulangan Pekerja Anak di Sektor Pertanian menggelar PAACLA Award 2026 di Jakarta, Kamis (18/6/2026). Mengusung tema “Kartu Merah untuk Pekerja Anak”, kegiatan ini menjadi ajang apresiasi bagi berbagai pihak yang berkomitmen terhadap perlindungan anak sekaligus forum diskusi nasional untuk memperkuat upaya penghapusan pekerja anak di Indonesia.
Acara tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, organisasi internasional, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil guna membahas strategi bersama dalam mewujudkan Indonesia yang bebas dari pekerja anak.
Koordinator PAACLA Indonesia yang juga Direktur Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Dr. Nur Hygiawati Rahayu, ST, MSc, menegaskan bahwa penghapusan pekerja anak membutuhkan komitmen dan kolaborasi seluruh pihak di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang semakin kompleks.
Menurutnya, berbagai tantangan global maupun nasional tidak dapat dihadapi oleh pemerintah semata. Diperlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, organisasi pekerja, serikat buruh, organisasi masyarakat sipil, organisasi internasional, serta seluruh elemen masyarakat untuk memastikan pembangunan ekonomi berjalan secara berkelanjutan tanpa mengabaikan hak-hak anak.
“Indonesia masih membutuhkan kolaborasi yang kuat dari seluruh pihak agar pembangunan yang kompetitif tetap berjalan seiring dengan perlindungan hak-hak anak. Setiap langkah kecil yang dilakukan bersama merupakan bagian penting dalam mewujudkan perubahan besar,” ujar Nur Hygiawati Rahayu.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan Hak Asasi Manusia Kementerian HAM, Munafrizal Manan, S.H., S.Sos., LL.M., M.IP., M.Si., menekankan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam memberantas pekerja anak.
Menurutnya, PAACLA Award bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan wujud nyata penguatan komitmen bersama untuk mendorong langkah-langkah yang lebih progresif dan konkret dalam mengurangi hingga menghapus praktik pekerja anak di Indonesia.
“Kita tidak boleh hanya terus berbicara tentang angka pekerja anak. Yang lebih penting adalah sejauh mana tindakan yang dilakukan mampu mengurangi jumlah pekerja anak secara nyata. Penghargaan ini menjadi inspirasi bahwa ada perusahaan-perusahaan yang berkomitmen untuk tidak mempekerjakan anak dan menjadikan perlindungan hak anak sebagai bagian dari praktik bisnis yang bertanggung jawab,” kata Munafrizal.
Ia juga menegaskan pentingnya penerapan prinsip Business and Human Rights (Bisnis dan Hak Asasi Manusia) oleh pelaku usaha, termasuk pelaksanaan uji tuntas HAM dalam rantai bisnis dan operasional perusahaan sebagai bagian dari standar kepatuhan yang terus diperkuat pemerintah.
Dalam keynote speech, Executive Director ECLT Foundation, Innocent Mugwagwa, menyampaikan perspektif global mengenai penghapusan pekerja anak, khususnya di sektor pertanian. Ia menegaskan bahwa pekerja anak bukan hanya persoalan ketenagakerjaan, melainkan juga terkait pembangunan, kemiskinan, pendidikan, dan keadilan sosial yang membutuhkan pendekatan lintas sektor.
Menurutnya, pemerintah memiliki peran penting melalui kebijakan, penegakan hukum, perlindungan sosial, dan perluasan akses pendidikan. Namun, keberhasilan penghapusan pekerja anak juga sangat bergantung pada keterlibatan dunia usaha, organisasi pekerja, organisasi masyarakat sipil, lembaga internasional, dan komunitas lokal.
“Penghapusan pekerja anak membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan. Tidak ada satu pihak pun yang dapat menyelesaikan persoalan ini sendirian. Kita membutuhkan kemitraan yang kuat untuk memastikan setiap anak memperoleh haknya untuk tumbuh, belajar, bermain, dan mengembangkan potensinya,” ujar Innocent Mugwagwa.
Ia menambahkan bahwa penghargaan melalui PAACLA Award merupakan bentuk apresiasi terhadap inovasi, kepemimpinan, dan komitmen berbagai pihak dalam memperjuangkan masa depan anak-anak yang lebih baik.
Selain penganugerahan penghargaan, PAACLA Award 2026 juga menghadirkan Seminar Nasional yang membahas berbagai isu strategis terkait perlindungan anak di era digital, penghapusan pekerja anak, serta peran dunia usaha dalam membangun ekosistem perlindungan anak yang berkelanjutan.
Seminar nasional menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Wahyudi Djafar, Co-Founder dan Executive Director Center for AI and Digital Policy (CAIDP) Asia Pasifik; Chairul Saleh, Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Andi Akbar, Kepala Sekretariat PAACLA Indonesia; serta Ratna Dwirosa, Wakil Ketua Perlindungan Anak dan Perempuan KADIN Indonesia.
Diskusi seminar nasional dipandu oleh Dede Shinta, National Project Coordinator International Labour Organization (ILO) Indonesia dan Timor-Leste.
Melalui PAACLA Award 2026, para pemangku kepentingan berharap semakin banyak kolaborasi lintas sektor yang lahir untuk mempercepat penghapusan pekerja anak di Indonesia serta memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan generasi masa depan yang lebih terlindungi, berdaya, dan sejahtera.

