Skip to content
KompasIndo
Menu
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu

PT. Benih Inti Nusantara dan BRIN Perkenalkan Kelapa Pandan Wangi Sumut Bernilai Ekonomi Tinggi di Nusahorti 2026

Posted on 13 Juni 2026

KOMPASINDO.CO.ID, Tangerang – Pameran Nusatic Nusapet Nusahorti 2026 resmi dibuka pada Jumat (12/6/2026) di Hall 7, 8, 9, dan 10 ICE BSD City, Tangerang. Pameran yang berlangsung hingga 14 Juni 2026 ini menjadi ajang pertemuan pelaku industri, akademisi, komunitas, pelaku usaha, peneliti, investor, serta masyarakat yang memiliki minat pada sektor ikan hias, hewan peliharaan, dan hortikultura.

Mengusung tema “Richness in Diversity”, Nusatic Nusapet Nusahorti 2026 menghadirkan berbagai inovasi, teknologi, produk unggulan, serta peluang investasi dan bisnis dari industri aquatik, pet, dan hortikultura. Beragam kegiatan edukatif seperti seminar, workshop, kompetisi, demonstrasi produk, hingga sesi konsultasi bersama para ahli turut menjadi daya tarik bagi ribuan pengunjung yang memadati area pameran.

Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung pada pameran tahun ini adalah PT. Benih Inti Nusantara yang memperkenalkan Kelapa Genjah Pandan Wangi Sumatera Utara, varietas unggulan yang memiliki karakteristik unik, cita rasa premium, serta nilai ekonomi yang tinggi.

Di booth PT. Benih Inti Nusantara pada Pameran Nusahorti 2026 di Hall 8 ICE BSD City, Pelepas Varietas Kelapa Genjah Pandan Wangi Sumut, Dr. Ismail Maskromo, M.Si., Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan kepada awak media mengenai potensi besar varietas kelapa tersebut untuk dikembangkan secara luas di Indonesia.

Menurut Ismail, kehadiran kelapa dalam pameran yang identik dengan tanaman hortikultura menjadi sesuatu yang cukup unik karena selama ini kelapa lebih dikenal sebagai tanaman perkebunan.

“Kalau pameran hortikultura biasanya identik dengan buah-buahan, sayuran, maupun tanaman hias. Kehadiran kelapa tentu menjadi sesuatu yang berbeda. Namun yang kami perkenalkan bukan kelapa untuk santan atau minyak, melainkan kelapa muda premium yang memiliki cita rasa dan aroma khas,” ujarnya.

Baca Juga:  Yusran Tegaskan Komitmen Ampetra Indonesia Perjuangkan Legalitas dan Kesejahteraan Penambang Tradisional

Ia menjelaskan bahwa Kelapa Genjah Pandan Wangi Sumatera Utara mulai diperkenalkan secara luas setelah resmi dilepas sebagai varietas unggul pada tahun 2019. Kelapa ini memiliki keistimewaan berupa aroma pandan alami yang muncul pada air kelapanya sehingga memberikan sensasi berbeda dibandingkan kelapa muda pada umumnya.

“Yang membedakan kelapa ini dengan kelapa lainnya adalah aroma dan rasanya. Ketika diminum, ada sensasi aroma pandan yang sangat khas. Inilah yang menjadi nilai jual utama sehingga harga buahnya bisa mencapai lima kali lipat dibandingkan kelapa biasa,” jelasnya.

Menurut Ismail, varietas ini merupakan salah satu inovasi yang memiliki prospek pasar sangat menjanjikan, terutama di tengah meningkatnya tren konsumsi minuman sehat berbasis bahan alami.

“Tren konsumsi kelapa sekarang mulai berubah. Kalau dulu kelapa lebih banyak dimanfaatkan untuk santan atau minyak, sekarang masyarakat mulai mencari air kelapa yang berkualitas tinggi karena dianggap lebih sehat. Kelapa Pandan Wangi menjawab kebutuhan itu karena memiliki cita rasa premium,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri air kelapa premium karena didukung kondisi agroklimat yang sesuai serta kekayaan sumber daya genetik kelapa yang sangat beragam.

Dalam kesempatan tersebut, Ismail juga memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman varietas kelapa terbesar di dunia. Berbagai jenis kelapa lokal tersebar hampir di seluruh wilayah Nusantara dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing.

“Kita memiliki kekayaan plasma nutfah yang luar biasa. Misalnya Kelapa Kopyor yang terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kelapa Genjah Hijau dari Labuhan Batu Sumatera Utara, Kelapa Merah Bali, kelapa sabut merah, hingga berbagai varietas lokal lainnya yang memiliki keunggulan masing-masing,” tuturnya.

Menurutnya, kekayaan genetik tersebut harus terus dilestarikan dan dikembangkan karena menjadi aset strategis bagi ketahanan pangan sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  PHI Group Tancap Gas di 2026: Akselerasi Bisnis Hotel, Resort, dan Kawasan Wisata Premium, Investor Asing Mulai Masuk

Ia menambahkan bahwa pengembangan industri kelapa saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada produksi minyak. Berbagai produk turunan kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan mulai dari air kelapa, santan, tepung kelapa, gula kelapa, serat kelapa, hingga produk kesehatan dan kecantikan.

“Kalau sawit unggul untuk produksi minyak dalam jumlah besar, kelapa memiliki keunggulan lain yang tidak dimiliki sawit. Air kelapa, santan, hingga berbagai produk turunannya memiliki pasar yang sangat luas dan bernilai tinggi,” ujarnya.

Mengenai budidaya, Ismail menegaskan bahwa produktivitas tinggi hanya dapat dicapai melalui penggunaan benih unggul dan penerapan teknik budidaya yang baik sejak awal penanaman.

Menurutnya, keberhasilan budidaya dimulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, teknik penanaman yang benar, pemupukan yang teratur, hingga pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman.

“Tanaman kelapa memang terlihat sederhana, tetapi untuk menghasilkan produksi yang optimal tetap membutuhkan perhatian. Tidak cukup hanya menanam lalu ditinggalkan. Harus ada pemupukan, pengairan, pengendalian hama, dan perawatan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Untuk mempercepat penyebaran teknologi budidaya kepada petani, BRIN kini juga memanfaatkan teknologi digital melalui berbagai media edukasi yang mudah diakses masyarakat.

“Petani sekarang hampir semuanya sudah menggunakan telepon pintar. Karena itu kami mengembangkan video-video pendek yang berisi panduan budidaya sehingga informasi bisa lebih cepat diterima dan dipahami oleh petani di berbagai daerah,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa Kelapa Genjah Pandan Wangi dapat mulai berproduksi pada usia sekitar dua setengah tahun apabila dipelihara dengan baik. Keunggulan tersebut menjadikannya menarik bagi petani maupun investor karena mampu memberikan pengembalian investasi dalam waktu relatif cepat.

Dalam pembahasannya mengenai masa depan industri kelapa nasional, Ismail juga menyoroti perlunya keseimbangan antara pengembangan komoditas sawit dan kelapa. Menurutnya, kedua komoditas tersebut memiliki karakteristik dan pasar yang berbeda sehingga tidak perlu dipertentangkan.

Baca Juga:  PT Galih Cipta Wisesa Perkenalkan BasKuma Pro Dry Mist System dan Inovasi Sterilisasi dengan Suhu Rendah di Hospital Expo 2025

“Sawit memiliki keunggulan kompetitif dalam industri minyak. Namun kelapa memiliki keunggulan komparatif karena menghasilkan berbagai produk yang tidak dapat dihasilkan oleh sawit. Oleh karena itu keduanya harus berjalan seimbang dan saling melengkapi,” ujarnya.

Ia mencontohkan bahwa sejumlah negara mulai meningkatkan kembali pengembangan kelapa karena melihat potensi ekonomi dari produk-produk turunannya yang semakin diminati pasar internasional.

Menutup wawancaranya, Ismail yang juga memiliki podcast edukasi pertanian dan perkebunan “Bincang Kedai Hijau” menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara Nusatic Nusapet Nusahorti 2026 yang telah memberikan ruang bagi para peneliti, pemulia tanaman, dan perusahaan benih untuk memperkenalkan inovasi kepada masyarakat luas.

Menurutnya, pameran seperti ini menjadi jembatan yang efektif antara dunia riset, pelaku usaha, investor, petani, dan konsumen sehingga hasil-hasil inovasi dapat lebih cepat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk memperkenalkan hasil riset kepada masyarakat. Dengan adanya pameran seperti ini, masyarakat menjadi lebih mengenal inovasi yang dihasilkan oleh para peneliti dan membuka peluang pengembangan usaha yang lebih luas,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pengembangan sektor riset pertanian dan perkebunan, termasuk dukungan fasilitas serta pembiayaan penelitian agar inovasi yang dihasilkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Riset adalah fondasi kemajuan. Tanpa riset, akan sulit menghasilkan inovasi yang mampu meningkatkan daya saing bangsa. Karena itu dukungan terhadap penelitian harus terus diperkuat agar Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya genetik yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Pos Terbaru

  • DPN PERADI Gelar Seminar Internasional, Bahas Jaminan Akuisisi, Asuransi dan Kontrak Konstruksi
  • Mayjen TNI dr. Hadi Juanda Ungkap Capaian Bakti Kesehatan TNI, 76.596 Peserta Terlayani
  • Munaslub AAI 2026 Sepakat Pilih Tjandra Sridjaja Jadi Ketua Umum Periode 2026-2031
  • SANY Bukukan Pesanan Lebih dari 500 Unit Alat Berat di Mining Indonesia 2026
  • Prabowo Soroti Meriahnya HUT PAN ke-28, Singgung Soal Keuangan dan Pesan “Margo Ono”
  • Kapolri: Keberhasilan Polri Bukan Sekadar Penghargaan, tetapi Kepercayaan Masyarakat
  • Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 17 September 2026
  • Lepas Misi Port Visit KRI dr. Wahidin, Menko Polkam Tekankan Kemanusiaan dan Diplomasi
  • PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat
  • Selamat Hari PMI 2026, Dr. Bonar P. Krisnanto: Setetes Kepedulian, Sejuta Harapan
Seedbacklink
©2026 KompasIndo | Design: Newspaperly WordPress Theme