KOMPASINDO.CO.ID, Jakarta – Menjelang berakhirnya Tahun Anggaran 2025, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Konferensi Pers bertajuk “Capaian Kinerja Sektor Kelautan dan Perikanan Tahun 2025 Part 1” di Media Center KKP, Gedung Mina Bahari IV, Jakarta, Kamis (11/12). Agenda ini merupakan bagian pertama dari rangkaian konferensi pers yang akan dilaksanakan untuk menyampaikan perkembangan program, strategi, dan capaian KKP sepanjang tahun 2025.
Konferensi pers ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Machmud selaku Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, serta Ishartini selaku Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan.
Dalam paparannya, Ishartini menjelaskan berbagai capaian strategis terkait pengawasan mutu, standar keamanan, sertifikasi produk, hingga stabilitas ekspor perikanan Indonesia di pasar global. Ia menegaskan bahwa Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan yang dibentuk melalui Keppres 2023 menjalankan fungsi vital dalam menjaga mutu dan keamanan produk mulai dari hulu hingga hilir.
Sepanjang 2025, Indonesia mencatat capaian signifikan berupa keberterimaan produk perikanan di 147 negara. Selain itu, lebih dari 1.104 unit pengolahan ikan telah mendapatkan sertifikasi penerapan prinsip keamanan pangan. Monitoring mutu di berbagai kabupaten/kota juga terus diperkuat, termasuk surveilans bahan berbahaya seperti formalin di sejumlah pasar domestik.
Hingga September 2025, badan mutu menerbitkan 75.000 sertifikat ekspor senilai 3,5 miliar rupiah. Sertifikat tersebut termasuk dokumen bebas radioaktif yang menjadi persyaratan khusus Amerika Serikat. Laboratorium KKP juga terus meningkatkan kapasitas uji, termasuk kemampuan mendeteksi radionuklida seperti cesium-137.
Ishartini menyampaikan bahwa setelah sempat terhambat akibat kasus kontaminasi udang, ekspor udang Indonesia ke Amerika Serikat kini telah kembali normal sejak 31 Oktober 2025. KKP berkolaborasi dengan BRIN dan BAPETEN dalam pengujian, koordinasi SOP, dan pelatihan inspektur mutu. Pada 3 Desember, ekspor perdana kembali diterima dan dinyatakan lolos di Amerika Serikat. Pemulihan ini disebut menyelamatkan nilai ekspor udang Indonesia yang mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS setiap tahun.
Sementara itu, Machmud memaparkan capaian kinerja Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekspor tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan standar mutu, sertifikasi, dan ketelusuran produk yang dilakukan oleh badan mutu.
Hingga Oktober 2025, nilai ekspor hasil kelautan dan perikanan mencapai 5,07 miliar dolar AS atau meningkat 5,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan signifikan tercatat pada ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara Eropa. Meski terjadi penyesuaian harga pada komoditas rumput laut, komoditas udang dan produk olahan masih menjadi motor utama pertumbuhan ekspor.
Machmud juga menjelaskan bahwa neraca perdagangan sektor kelautan dan perikanan mencatat surplus 4,53 miliar dolar AS. Impor tetap berada pada level rendah, dan hanya meliputi komoditas yang tidak diproduksi domestik seperti salmon dan tepung ikan.
Dalam upaya meningkatkan ekspor, KKP melaksanakan berbagai program seperti pameran internasional, workshop, business matching, hingga penguatan sistem ketelusuran. Salah satu capaian strategis adalah pengembangan UKM naik kelas, di mana dari 647 UKM yang dikurasi, sebanyak 30 UKM telah naik kelas dan siap memasuki pasar ekspor.
Investasi sektor kelautan dan perikanan juga menunjukkan perkembangan positif. Hingga dilantik, tercatat nilai investasi mencapai 7,82 triliun rupiah, dengan mayoritas investasi mengalir ke sektor pengolahan dan budidaya. Business matching terbaru mencatat potensi investasi 1,6 triliun rupiah.
Terkait Kredit Usaha Rakyat (KUR), KKP mencatat penyaluran mencapai 4,7 triliun rupiah dengan 91.304 debitur. Sebagian besar KUR disalurkan melalui Bank BRI, dengan sektor budidaya ikan menjadi penerima terbanyak.
Machmud juga menyoroti program Kampung Nelayan Merah Putih yang sedang berjalan di 100 lokasi. Penguatan daya saing melalui penyediaan sistem rantai dingin dilakukan melalui pembangunan pabrik es, gudang beku, serta distribusi cool box di lebih dari 65 titik. Seluruh fasilitas ditargetkan selesai pada 31 Desember 2025.
Konferensi pers ini ditutup dengan sesi tanya jawab bersama media. KKP menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan daya saing produk, memperluas pasar ekspor, memperkuat pengendalian mutu, serta memastikan keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan Indonesia di tengah dinamika perdagangan global.

