Skip to content
KompasIndo
Menu
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu

Masjid dan Kemanusiaan yang Hilang: Tragedi yang Mengguncang Nurani Bangsa

Posted on 4 November 2025

KOMPASINDO.CO.ID – Sebuah peristiwa memilukan mengguncang kesadaran publik dan mengoyak nurani umat beragama di Indonesia. Seorang pemuda bernama Arjuna Tamaraya, 21 tahun, tewas di area Masjid Agung Sibolga, Sumatera Utara, akibat penganiayaan brutal oleh lima orang yang merasa terganggu oleh keberadaannya. Padahal, pemuda perantau itu hanya ingin beristirahat sejenak di rumah Allah pada Jumat dini hari menjelang Subuh.

Kematian Arjuna yang terekam kamera pengawas (CCTV) menjadi potret paling kelam dari krisis kemanusiaan yang justru terjadi di tempat yang mestinya menjadi sumber kedamaian. Ia dipukuli, ditendang, diseret keluar, kepalanya terbentur anak tangga, bahkan dilempari buah kelapa. Semua itu terjadi di rumah ibadah, tempat yang selama ini diajarkan sebagai simbol kasih, ampunan, dan perlindungan.

Tragedi itu kemudian diulas secara mendalam oleh penulis dan cendekiawan Ahmadie Thaha atau yang akrab disapa Cak AT dalam tulisannya berjudul Setan Masjid. Melalui kolom reflektifnya, ia mengajak masyarakat untuk merenung, bukan hanya tentang kejadian itu, tetapi juga tentang krisis moral dan hilangnya makna kemanusiaan di tengah kehidupan beragama yang kian formalistik.

Menurut Cak AT, masjid seharusnya menjadi tempat paling aman setelah pelukan seorang ibu dan pangkuan seorang guru spiritual. Namun kini, sebagian masjid justru berubah menjadi arena emosi yang meledak tanpa kendali. “Bagaimana bisa di rumah Allah, orang diperlakukan bukan seperti tamu, tapi seperti karung beras yang jatuh dari truk?” tulisnya dengan getir.

Ia menyoroti bahwa tragedi ini bukan hanya soal tindakan kekerasan, tetapi cerminan dari kegagalan dakwah dan pendidikan moral yang seharusnya menumbuhkan kasih sayang. “Apakah khutbah Jumat selama ini tak pernah menyentuh hal paling dasar dari agama mana pun: bahwa nyawa manusia itu bukan barang obralan?” tulisnya lagi.

Baca Juga:  Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran Indonesia Dorong Ekosistem Hospitality Inklusif di IFFINA 2025

Al-Qur’an telah mengingatkan dengan tegas bahwa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang benar sama saja dengan membunuh seluruh umat manusia. Pesan ilahi ini bahkan diabadikan di berbagai tempat di dunia, termasuk di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat. Namun, di negeri yang mayoritas penduduknya beriman, ayat itu seolah hanya jadi kutipan tanpa kehidupan.

Cak AT menyoroti betapa sering khutbah-khutbah di masjid kehilangan substansi. Terlalu akademis hingga jamaah tertidur, atau terlalu dangkal hingga kehilangan daya moralnya. “Seberapa sering khutbah bicara tentang akhlak dasar yang membentuk manusia, bukan sekadar larangan-larangan yang membuat dahi kita semakin berlipat seperti sajadah bekas sujud panjang?” ujarnya.

Tragedi ini, kata Cak AT, harus menjadi bahan introspeksi bagi seluruh pengurus dan jamaah masjid. Masjid tidak cukup hanya ramai dengan ceramah, kajian, dan program keagamaan, tetapi harus hadir sebagai pusat moral sosial, tempat orang belajar mengasihi, bukan membenci.

“Kalau masjid tak mampu menjinakkan amarah warganya, lantas apa makna deretan panjang kajian, tabligh akbar, dan ceramah subuh?” tulisnya. “Kalau orang bisa meninggal dipukuli atas urusan sepele di sana, apakah yang selama ini kita bangun adalah rumah ibadah atau benteng emosi tak tersalurkan?”

Cak AT juga menyinggung pentingnya peran khatib dan da’i untuk memahami medan dakwahnya. “Apakah para khatib yang sering didatangkan dari luar lingkungan memahami situasi sosial tempat mereka berdiri? Atau mereka hanya datang, berkhutbah seperti membaca pengumuman, lalu pulang dengan gamis rapi, meninggalkan jamaah yang tetap bingung menghadapi masalah sosial di sekitarnya?”

Masjid, menurutnya, seharusnya menjadi ruang penyembuh, bukan ruang penghukum. Di negara-negara lain, rumah ibadah bahkan menjadi pusat rehabilitasi sosial, dialog lintas iman, dan konseling keluarga. Sementara di sini, masjid seringkali sibuk memutuskan siapa boleh tidur, siapa harus minggir dari saf depan.

Baca Juga:  Ketua Umum HKTI Ajak Maksimalkan Peran untuk Petani dan Ketahanan Pangan Nasional

Ironi ini, kata Cak AT, memperlihatkan bahwa yang rusak bukan bangunan masjid, melainkan manusia yang menghuninya. “Dakwah bukan tentang panjang pendek khutbah, tetapi sejauh mana pesan itu mengubah perilaku,” tulisnya penuh peringatan.

Kematian Arjuna menjadi alarm yang tak boleh diabaikan. Ia mengingatkan kita bahwa kemuliaan rumah ibadah tidak terletak pada arsitektur megahnya, melainkan pada kemanusiaan yang tumbuh di dalamnya. Dan bahwa penghormatan terhadap kehidupan manusia adalah bentuk ibadah paling awal sebelum sujud dan dzikir dilakukan.

“Masjid dapat kembali pada peran aslinya bila kita kembalikan kemanusiaan sebagai inti dakwah,” tutup Cak AT. “Khutbah yang baik bukan yang panjang, bukan yang puitis, tetapi yang mampu mencegah tangan orang berbuat semena-mena.”

Dari satu nyawa yang terampas, semoga lahir kesadaran kolektif bahwa agama tanpa kasih hanyalah ritual tanpa ruh. Semoga masjid kembali menjadi rumah keselamatan, bukan ruang kemarahan. Dan semoga kita, para jamaah yang sibuk mengejar pahala, tidak lupa bahwa ibadah pertama adalah menghormati kehidupan.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 3 November 2025

Pos Terbaru

  • Harris Hotel & Convention Serpong Tampil Perdana di IBEM 2026, Siap Jadi Destinasi Utama MICE di Tangerang
  • DISKOVERA DMC Promosikan Bali, Labuan Bajo, dan Sumba di IBEM 2026, Perkuat Posisi Indonesia sebagai Destinasi MICE Dunia
  • Wellous Indonesia Sabet APEA 2026 Fast Enterprise Award, Henry Yotania Tegaskan Kesuksesan Berkat Kolaborasi Seluruh Tim
  • APKIDA Perkuat Hilirisasi Industri Kimia Indonesia di Chemical Indonesia 2026, Halim Chandra: Saatnya Tingkatkan Produk Bernilai Tambah
  • APNI Gelar TTM Series 8, Bekali Pelaku Industri Nikel Hadapi Regulasi Baru dan Penguatan Tata Kelola Pertambangan
  • PRO AVL Indonesia 2026 Resmi Dibuka di NICE PIK 2, Hadirkan 60 Brand Global dan Perkuat Posisi Indonesia di Industri Audio Visual
  • PRO AVL Indonesia Expo 2026 Resmi Dibuka, Perkuat Kolaborasi Industri Audio Visual, Musik, dan Teknologi Hiburan Indonesia
  • Bentrok Warga di Matraman Dalam Jakarta Pusat Pecah, Diduga Dipicu Perselisihan Pedagang Nasi Uduk, Satu Orang Tewas
  • Burhanuddin Abdullah Resmi Terpilih sebagai Ketua Umum PWRI 2026–2031 Secara Aklamasi, Siap Perkuat Peran 3,6 Juta Wredatama Indonesia
  • KESUMA RI Canangkan Desa Siaga Nasional, Target 50 Kursi DPR RI untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045
Seedbacklink
©2026 KompasIndo | Design: Newspaperly WordPress Theme