KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 6 Agustus 2026 – Ajang Fun Asia 2026 kembali menjadi momentum penting bagi pelaku industri wahana bermain dan hiburan keluarga untuk memperkuat kolaborasi sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata berbasis rekreasi di Indonesia. President Director PT Funworld Prima, Rachmat Sutiono, menegaskan bahwa pameran ini sejak awal digagas sebagai wadah untuk membangun dan memperbesar ekosistem industri, bukan semata-mata mengejar keuntungan penyelenggara.
Hal tersebut disampaikan Rachmat Sutiono saat diwawancarai awak media di sela penyelenggaraan Fun Asia 2026 yang berlangsung di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/8).
Menurut Rachmat, penyelenggaraan pameran Fun Asia telah dimulai sejak 1997 dengan tujuan utama memperkenalkan sekaligus mengembangkan industri wahana hiburan dan rekreasi di Indonesia. Selama hampir tiga dekade, pameran ini konsisten menjadi tempat bertemunya pelaku usaha, investor, operator pusat hiburan keluarga, hingga produsen teknologi permainan dari berbagai negara.
“Sejak awal tujuan kami bukan mencari keuntungan dari penyelenggaraan pameran. Yang ingin kami lakukan adalah memperbesar industrinya terlebih dahulu. Kalau industrinya tumbuh, seluruh pelaku usaha akan ikut berkembang. Lebih baik mendapatkan porsi kecil dari industri yang besar daripada menguasai sebagian besar dari industri yang masih kecil,” ujar Rachmat.
Ia bersyukur industri hiburan keluarga dan rekreasi di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif sejak Fun Asia pertama kali digelar. Menurutnya, pertumbuhan tersebut menjadi bukti bahwa kebutuhan masyarakat terhadap destinasi hiburan keluarga semakin meningkat seiring berkembangnya sektor pariwisata nasional.
Meski demikian, Rachmat mengakui Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun industri manufaktur wahana permainan. Hingga kini, mayoritas peserta pameran masih berasal dari luar negeri karena produsen dalam negeri yang memproduksi wahana permainan berskala besar masih sangat terbatas.
“Kalau melihat komposisi peserta pameran, sebagian besar masih merupakan perusahaan luar negeri. Mereka sudah memiliki industri manufaktur yang kuat dan menguasai pasar global. Indonesia masih perlu waktu untuk mengejar ketertinggalan tersebut,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa membangun industri manufaktur wahana bukan perkara mudah. Dibutuhkan ekosistem industri yang lengkap, mulai dari kemampuan desain, rekayasa teknologi, industri pendukung, rantai pasok, hingga sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi.
“Negara-negara yang saat ini menjadi pemain utama dunia sudah memiliki industri pendukung yang sangat kuat. Mereka cukup membuat desain, kemudian seluruh proses produksi bisa dilakukan dengan cepat karena seluruh komponennya tersedia. Kondisi itu masih menjadi tantangan bagi Indonesia,” jelasnya.
Karena itu, Rachmat menilai pengembangan industri wahana dalam negeri memerlukan investasi jangka panjang, transfer teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi yang lebih erat antara pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah.
Terkait dukungan pemerintah, Rachmat mengatakan hingga saat ini pelaku industri belum merasakan adanya dukungan langsung yang signifikan terhadap pengembangan industri wahana bermain. Meski demikian, ia mengapresiasi berbagai upaya pemerintah, khususnya melalui sektor pariwisata, yang terus berusaha mendorong pertumbuhan destinasi wisata di berbagai daerah.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur menuju kawasan wisata memang menjadi langkah positif. Namun, pengembangan industri wahana hiburan juga membutuhkan kebijakan yang lebih spesifik agar mampu meningkatkan daya saing nasional.
“Kementerian Pariwisata tentu memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor ini, tetapi kami berharap ke depan dukungan yang diberikan bisa lebih konkret. Industri wahana hiburan memiliki kontribusi besar terhadap pariwisata, penciptaan lapangan kerja, hingga pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Rachmat menambahkan bahwa pengembangan industri hiburan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, investor, pelaku usaha, lembaga pendidikan, hingga sektor keuangan agar Indonesia mampu memiliki industri wahana yang mandiri dan kompetitif.
Ia optimistis apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki visi yang sama, Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk luar negeri, tetapi juga mampu melahirkan produsen wahana bermain yang dapat bersaing di pasar internasional.
Menutup wawancara, Rachmat menyampaikan harapannya agar semakin banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan industri hiburan dan rekreasi nasional.
“Harapan saya sederhana, semoga semakin banyak orang yang mau berpikir untuk memajukan industri ini. Pengembangan industri membutuhkan tenaga, investasi, inovasi, dan komitmen bersama. Jangan hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi bagaimana industri ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, dunia pariwisata, dan kemajuan Indonesia,” tutupnya.
Penyelenggaraan Fun Asia 2026 yang berlangsung pada 5–6 Agustus 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, kembali menjadi ajang bertemunya pelaku industri amusement dan leisure dari berbagai negara. Pameran ini menghadirkan beragam inovasi teknologi wahana bermain, mesin permainan, fasilitas rekreasi keluarga, serta solusi bisnis yang diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan industri hiburan dan pariwisata Indonesia.

