KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – Setara Institute resmi menggelar acara Launching dan Penghargaan Indeks Kota Toleran Tahun 2025 (IKT 2025) yang berlangsung di Mangkuluhur Artotel Suites Jakarta, Rabu (22/4). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong penguatan nilai toleransi di berbagai kota di Indonesia melalui pengukuran yang berkelanjutan.
Ketua Badan Pengurus Harian Setara Institute, Dr. Ismail Hasani, dalam sambutannya menegaskan bahwa penyelenggaraan IKT yang telah memasuki tahun ke-9 bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk konsistensi dalam kerja-kerja akademik dan intelektual untuk memantau perkembangan toleransi di daerah.
Ia menjelaskan bahwa indeks ini berfungsi sebagai instrumen untuk mencatat, merekam, serta mengevaluasi progres maupun regresi upaya kolektif antara pemerintah daerah, masyarakat, dan para tokoh di tingkat kabupaten/kota dalam menjaga dan memajukan toleransi.
“Indeks Kota Toleran bukan semata-mata prestasi wali kota atau institusi tertentu, melainkan hasil kerja bersama seluruh elemen, termasuk pemerintah daerah, birokrasi, dan masyarakat sipil,” ujar Ismail.
Lebih lanjut, Ismail memaparkan tiga area intervensi utama yang menjadi kunci dalam meningkatkan toleransi di daerah. Pertama, kepemimpinan politik yang promotif terhadap nilai toleransi. Menurutnya, peran wali kota dan wakil wali kota sangat strategis dalam membangun arah kebijakan yang inklusif.
Kedua, kepemimpinan birokrasi yang berkelanjutan. Ia menilai birokrasi memiliki posisi krusial karena keberadaannya yang relatif stabil dibandingkan kepemimpinan politik yang bersifat periodik. Oleh karena itu, birokrasi harus menjadi penggerak utama dalam memastikan implementasi kebijakan toleransi berjalan efektif.
Ketiga, kepemimpinan sosial yang melibatkan masyarakat sipil. Ismail menekankan bahwa tanpa dukungan masyarakat, upaya mempromosikan toleransi tidak akan berjalan optimal. Dalam konteks ini, Setara Institute juga memberikan penghargaan kepada perwakilan masyarakat sipil sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka.
“Jika kepemimpinan politik kuat, birokrasi solid, dan kepemimpinan sosial berjalan, maka toleransi akan tumbuh secara berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Setara Institute juga mengingatkan pentingnya komitmen daerah dalam menjaga toleransi, terutama menghadapi dinamika sosial yang kerap muncul dalam momen-momen tertentu seperti perayaan keagamaan.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah kepala daerah, perwakilan pemerintah, serta tokoh masyarakat dari berbagai kota di Indonesia yang berkomitmen memperkuat praktik toleransi sebagai bagian dari pembangunan yang inklusif.
Melalui peluncuran IKT 2025, Setara Institute berharap nilai toleransi semakin menjadi arus utama dalam tata kelola pemerintahan daerah dan kehidupan sosial masyarakat di Indonesia.
