KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 15 April 2026 – Ketua Panitia Pelaksana Halal Bihalal Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., menegaskan pentingnya memperkuat persatuan umat sebagai fondasi utama dalam mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia.
Hal tersebut disampaikannya dalam laporan pada acara Silaturahmi Nasional Ormas Islam dan Halal Bihalal Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar di The Sultan Hotel & Residence Jakarta, Rabu (15/4/2026), bertepatan dengan 27 Syawal 1447 H. Kegiatan ini mengusung tema “Bersatu dalam Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia.”
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pimpinan MUI, di antaranya Ketua Dewan Pertimbangan MUI K.H. Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI K.H. Anwar Iskandar, Wakil Ketua Umum K.H. Marsudi Syuhud, Buya H. Anwar Abbas, K.H. Cholil Nafis, Bendahara Umum H. Misbahul Ulum, Sekretaris Jenderal Buya H. Amirsyah Tambunan, serta Sekretaris Dewan Pertimbangan H. Zainut Tauhid Sa’adi.
Dalam laporannya, K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A. menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri sekitar 1.000 undangan dari berbagai kalangan, mulai dari pimpinan lembaga tinggi negara seperti MPR RI dan DPD RI, para menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih, hingga unsur TNI dan Polri, termasuk Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.
Selain itu, hadir pula para pimpinan ormas Islam, ulama, pimpinan pondok pesantren, organisasi kepemudaan Islam, serta para duta besar dan diplomat dari negara-negara sahabat, khususnya negara-negara Islam.
Ia menjelaskan bahwa tradisi halal bihalal merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang telah berlangsung sejak era Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Tradisi ini menjadi sarana mempererat silaturahmi dan saling memaafkan setelah Idulfitri.
“Halal bihalal adalah budaya khas Indonesia yang memudahkan umat untuk saling bertemu, bersilaturahmi, dan memperkuat ukhuwah setelah Idulfitri,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tema yang diangkat tahun ini merupakan hasil musyawarah mendalam yang dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi global, khususnya konflik di dunia Islam, termasuk tragedi kemanusiaan di Palestina dan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, keadilan adalah kunci utama dalam mewujudkan perdamaian yang hakiki. Oleh karena itu, diperlukan persatuan yang kuat, baik dalam bingkai ukhuwah Islamiyah maupun ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).
“Persatuan umat harus diperkuat, termasuk dalam hubungan harmonis antara ulama dan umara. Dengan kebersamaan, kita dapat mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia,” tegas K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara umat dan pemerintah, dengan tetap membuka ruang kritik dan masukan yang konstruktif demi menjaga persatuan bangsa.
Di akhir laporannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, meskipun persiapan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah membantu. Semoga melalui kegiatan ini, kita semakin memperkuat persatuan bangsa serta berkontribusi dalam mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia,” pungkasnya.
