Skip to content
KompasIndo
Menu
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu

Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq Dorong Percepatan Sekolah Adiwiyata dan Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia

Posted on 11 Desember 2025

KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr. Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pentingnya percepatan pembangunan sekolah berwawasan lingkungan sebagai upaya memperkuat ketahanan ekologi nasional. Hal itu disampaikan dalam keterangan kepada awak media usai menghadiri acara Penghargaan Adiwiyata 2025 yang digelar di Gedung Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Kamis (11/12).

Dalam penjelasannya, Hanif Faisol Nurofiq menyoroti tantangan besar yang sedang dihadapi Indonesia di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim, curah hujan ekstrem, kekeringan panjang, dan kenaikan permukaan air laut.

Ia mengatakan bahwa penyelenggaraan program Adiwiyata menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini melalui dunia pendidikan. Menteri Hanif menyebutkan bahwa dari sekitar 330.927 sekolah di Indonesia, baru sekitar 3.500 yang tergabung dalam program Adiwiyata. Menurutnya, jumlah tersebut masih sangat kecil dan perlu percepatan dengan melibatkan lebih banyak pihak.

“Kita masih banyak target yang harus dicapai. Baru sekitar 3.500 sekolah yang masuk Adiwiyata, padahal total sekolah kita mencapai lebih dari 330 ribu. Masih banyak yang harus kita dorong. Untuk itu kolaborasi berbagai pihak menjadi sangat penting,” ujar Hanif.

Menteri LHK juga menekankan bahwa ketahanan lingkungan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang cukup rentan, terutama ketika berhadapan dengan dampak perubahan iklim yang semakin tidak dapat diprediksi. Ia mencontohkan curah hujan ekstrem yang mencapai 18 kali lipat lebih tinggi dari kondisi normal di beberapa wilayah, seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“Kondisi curah hujan kita meningkat signifikan, bahkan mencapai 18 kali dari kondisi normal. Ini menunjukkan betapa serius situasinya. Indonesia adalah negara yang rawan bencana hidrometeorologi, sehingga membangun kesadaran lingkungan sebagai fondasi bangsa tidak bisa ditunda,” tegasnya.

Baca Juga:  Grand Opening PT Andalan Mitra Travelindo dan Raja Holiday Indonesia di Bekasi: Sinergi Baru Wisata dan Ibadah yang Berkah

Hanif juga menyinggung pentingnya adaptasi dan langkah restorasi ekologi yang harus dilakukan secara konsisten. Menurutnya, pemulihan lingkungan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan memerlukan kerja sama, ketekunan, dan komitmen jangka panjang.

“Restorasi lingkungan tidak bisa selesai secara cepat. Tidak ada solusi simsalabim. Semua harus melalui proses yang benar, termasuk adaptasi terhadap perubahan iklim yang sudah dirasakan nyata,” ujarnya.

Selain itu, Menteri Hanif mendorong integrasi nilai-nilai lingkungan hidup dalam pendidikan keagamaan, termasuk melalui masjid, mushola, dan sekolah berbasis agama. Ia menilai seluruh agama memiliki nilai dasar yang mendorong umatnya untuk menjaga alam.

“Semua agama mengajarkan pentingnya menjaga bumi. Maka edukasi lingkungan juga harus masuk ke lembaga-lembaga keagamaan dan pendidikan agama,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Hanif Faisol mengungkapkan bahwa KLHK tengah melakukan rekonstruksi struktur pelaksanaan Adiwiyata nasional agar keterlibatan pemerintah provinsi, kabupaten, dunia usaha, dan perguruan tinggi dapat berjalan lebih efektif. Ia menyebutkan adanya dukungan dari tiga universitas besar untuk memperkuat kurikulum kebumian dan kegiatan edukasi lingkungan bagi siswa.

“Kita sudah menggandeng sejumlah perguruan tinggi agar pemahaman kebumian dan lingkungan bisa diperkuat dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler,” jelasnya.

Mengenai meningkatnya bencana hidrometeorologi di beberapa daerah seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan kawasan Batang Toru, Menteri LHK memastikan bahwa kementeriannya telah menurunkan tim audit lingkungan dan melakukan kajian tingkat kerusakan untuk menetapkan langkah-langkah penanganan yang tepat, termasuk kemungkinan proses hukum apabila ditemukan unsur pidana lingkungan.

“Kami sudah menurunkan tim audit lingkungan. Jika ada unsur pidana, tentu akan diproses. Kita ingin penanganan dan pemulihan berjalan cepat dan tepat,” tegasnya.

Hanif juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke Aceh dan Sumatera Barat untuk melihat langsung kondisi terbaru, termasuk di kawasan Danau Maninjau yang tengah mengalami tekanan ekologis.

Baca Juga:  Peringati World Stroke Day 2025, Kawan Stroke Indonesia Ajak Masyarakat Waspadai Gejala Dini dan Dukung Pemulihan Penyintas

Di akhir pernyataannya, Hanif Faisol Nurofiq mengajak seluruh elemen bangsa—terutama dunia pendidikan, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat umum—untuk bersama-sama membangun budaya peduli lingkungan sebagai fondasi Indonesia menghadapi perubahan iklim global.

Pos Terbaru

  • DPN PERADI Gelar Seminar Internasional, Bahas Jaminan Akuisisi, Asuransi dan Kontrak Konstruksi
  • Mayjen TNI dr. Hadi Juanda Ungkap Capaian Bakti Kesehatan TNI, 76.596 Peserta Terlayani
  • Munaslub AAI 2026 Sepakat Pilih Tjandra Sridjaja Jadi Ketua Umum Periode 2026-2031
  • SANY Bukukan Pesanan Lebih dari 500 Unit Alat Berat di Mining Indonesia 2026
  • Prabowo Soroti Meriahnya HUT PAN ke-28, Singgung Soal Keuangan dan Pesan “Margo Ono”
  • Kapolri: Keberhasilan Polri Bukan Sekadar Penghargaan, tetapi Kepercayaan Masyarakat
  • Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 17 September 2026
  • Lepas Misi Port Visit KRI dr. Wahidin, Menko Polkam Tekankan Kemanusiaan dan Diplomasi
  • PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat
  • Selamat Hari PMI 2026, Dr. Bonar P. Krisnanto: Setetes Kepedulian, Sejuta Harapan
Seedbacklink
©2026 KompasIndo | Design: Newspaperly WordPress Theme