Skip to content
KompasIndo
Menu
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu

Robinson Napitupulu Desak Pemerintah Perkuat Kebijakan Reboisasi dan Pertanyakan Prioritas Pendanaan Lingkungan

Posted on 12 Desember 2025

KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, Jum’at (12/12) – Tokoh senior SOKSI sekaligus pengurus BP Lansia Pusat, Robinson Napitupulu, memberikan pandangan strategis terkait masa depan pengelolaan hutan Indonesia serta kebijakan pemerintah dalam menyeimbangkan komitmen global dan kebutuhan nasional. Dalam keterangannya, Robinson menekankan bahwa persoalan hutan tidak dapat dibiarkan menjadi isu musiman, tetapi harus menjadi agenda prioritas negara yang dijalankan secara konsisten.

Menurut Robinson, pemerintah tidak harus mengambil langkah ekstrem dengan menutup seluruh izin pengelolaan hutan. Sebaliknya, pemerintah harus menghadirkan sistem pengawasan yang lebih ketat serta kebijakan wajib reboisasi bagi seluruh pemegang izin. “Pemerintah wajib membuat aturan yang mewajibkan setiap pemegang izin untuk melakukan reboisasi dan penanaman pohon kembali. Ini akan mengembalikan keseimbangan ekosistem, memperbaiki kualitas lingkungan, dan mengurangi dampak perubahan iklim,” ujarnya.

Ia mencontohkan era Presiden Soeharto sebagai masa ketika program Reboisasi diterapkan secara tegas dan efektif. Saat itu, perusahaan pemegang HPH diwajibkan melakukan penghutanan kembali. Jika melanggar, izin operasional langsung dicabut. Robinson menilai pendekatan ini dapat diadopsi kembali, tentu dengan penyempurnaan sesuai tantangan zaman. “Program itu bisa menjadi model kebijakan baru. Tentu perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi saat ini, namun prinsip ketegasan negara harus tetap ada,” tegasnya.

Robinson menambahkan bahwa peran DPR sangat penting dalam mendorong perbaikan kebijakan kehutanan. Ia menyebut Komisi IV DPR RI, khususnya Firman Subagyo dari Fraksi Partai Golkar, sebagai figur yang harus memperjuangkan isu ini secara lebih vokal. “Partai Golkar harus proaktif. Kita harus membela kelestarian hutan Indonesia, menjaga hutan lindung, HTI, maupun hutan liar. Ini soal masa depan bangsa dan generasi mendatang,” ucapnya.

Selain menyoroti kebijakan dalam negeri, Robinson juga menanggapi komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menyumbang dana sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 16,7 triliun untuk mendukung perlindungan hutan tropis di Brazil melalui Tropical Forest Forever Facility (TFFF). Menurutnya, langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap isu lingkungan global dan memperkuat peran negara dalam diplomasi kehutanan internasional.

Baca Juga:  CV Restu Sejati Raih Penghargaan PAACLA Award 2026 atas Komitmen Cegah Pekerja Anak di Sektor Pertanian

Namun, Robinson menyampaikan bahwa muncul sejumlah pertanyaan dari publik terkait prioritas pendanaan. Di dalam negeri, bantuan untuk masyarakat terdampak hanya berjumlah sekitar Rp 500 miliar, sehingga sebagian kalangan mempertanyakan keseimbangan perhatian pemerintah antara komitmen global dan kondisi nasional. “Ada pandangan yang mempertanyakan: mana yang lebih utama? Apakah lebih penting menyelamatkan hutan dunia dibandingkan memperbaiki kondisi rakyat dan lingkungan di negeri sendiri yang masih mengalami banyak kerusakan?” kata Robinson.

Ia menekankan bahwa kritik seperti ini tidak bermaksud mengecilkan komitmen global pemerintah, namun lebih kepada mengingatkan pentingnya keseimbangan dan sensitivitas terhadap kondisi masyarakat. Menurutnya, pemerintah harus mampu memastikan bahwa kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama, tanpa mengabaikan kontribusi Indonesia terhadap isu lingkungan internasional.

Robinson berharap seluruh kebijakan nasional, baik terkait reboisasi maupun kontribusi global, dapat berjalan beriringan dengan semangat keberlanjutan dan kepentingan rakyat. Ia juga menegaskan bahwa perlindungan lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang harus dilakukan dengan kesadaran penuh, komitmen jangka panjang, serta keberanian politik. “Semoga suara-suara kita didengar oleh pemerintah, dan semoga kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada kelestarian hutan dan kesejahteraan rakyat,” tutupnya.

Pos Terbaru

  • Harris Hotel & Convention Serpong Tampil Perdana di IBEM 2026, Siap Jadi Destinasi Utama MICE di Tangerang
  • DISKOVERA DMC Promosikan Bali, Labuan Bajo, dan Sumba di IBEM 2026, Perkuat Posisi Indonesia sebagai Destinasi MICE Dunia
  • Wellous Indonesia Sabet APEA 2026 Fast Enterprise Award, Henry Yotania Tegaskan Kesuksesan Berkat Kolaborasi Seluruh Tim
  • APKIDA Perkuat Hilirisasi Industri Kimia Indonesia di Chemical Indonesia 2026, Halim Chandra: Saatnya Tingkatkan Produk Bernilai Tambah
  • APNI Gelar TTM Series 8, Bekali Pelaku Industri Nikel Hadapi Regulasi Baru dan Penguatan Tata Kelola Pertambangan
  • PRO AVL Indonesia 2026 Resmi Dibuka di NICE PIK 2, Hadirkan 60 Brand Global dan Perkuat Posisi Indonesia di Industri Audio Visual
  • PRO AVL Indonesia Expo 2026 Resmi Dibuka, Perkuat Kolaborasi Industri Audio Visual, Musik, dan Teknologi Hiburan Indonesia
  • Bentrok Warga di Matraman Dalam Jakarta Pusat Pecah, Diduga Dipicu Perselisihan Pedagang Nasi Uduk, Satu Orang Tewas
  • Burhanuddin Abdullah Resmi Terpilih sebagai Ketua Umum PWRI 2026–2031 Secara Aklamasi, Siap Perkuat Peran 3,6 Juta Wredatama Indonesia
  • KESUMA RI Canangkan Desa Siaga Nasional, Target 50 Kursi DPR RI untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045
Seedbacklink
©2026 KompasIndo | Design: Newspaperly WordPress Theme