JAKARTA, KOMPASINDO.CO.ID – Dr. Ir. Doddy Rahadi, MT., Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Investasi Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, menyampaikan sambutannya dalam pembukaan forum strategi pameran Inagritech 2025 dan Chemical Indonesia 2025 yang digelar pada 29-31 Juli 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Doddy Rahadi menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang promosi produk dan teknologi, melainkan menjadi wadah kolaborasi, pertukaran gagasan, dan penguatan ekosistem industri dalam negeri, khususnya di sektor agroindustri dan industri kimia. Hal ini sangat relevan dan strategis dalam mendukung visi Pemerintah menuju Indonesia Emas 2045, dimana penguatan sektor alat mesin pertanian, pupuk, dan industri kimia menjadi pondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan, transformasi industri nasional, dan peningkatan daya saing global.
Doddy menjelaskan potensi besar Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah dan luasnya lahan pertanian di berbagai pulau. Data tahun 2024 menunjukkan luas panen padi nasional mencapai 2,8 juta hektar dengan kontribusi terbesar dari Pulau Jawa, serta peningkatan luas panen jagung hingga 0,8 juta hektar. Hal ini menjadi indikasi keberhasilan intensifikasi dan modernisasi pertanian yang sedang dijalankan.
“Kita harus memanfaatkan potensi besar ini dengan kebijakan nasional yang kuat sesuai dengan RPJMN 2020-2024 yang menekankan swasembada pangan, modernisasi agrikultur, dan hilirisasi agroindustri sebagai prioritas utama. Ini menjadi landasan penguatan industri alat mesin pertanian dan pupuk agar pertanian Indonesia semakin produktif, modern, dan berdaya saing,” ujar Doddy.
Namun demikian, Doddy menyampaikan tantangan yang dihadapi industri mesin dan perlengkapan pertanian, yang meskipun mencatat pertumbuhan tinggi di periode 2021-2022, mengalami perlambatan sejak 2023 hingga awal 2025. Tingkat utilisasi produksi rata-rata tahun 2024 masih rendah di kisaran 44-56 persen, dan neraca perdagangan alat mesin pertanian menunjukkan defisit besar akibat impor yang jauh melampaui ekspor.
“Nilai impor alat dan mesin pertanian mencapai 657 juta dolar AS pada 2024, sedangkan ekspor baru sebesar 47 juta dolar AS. Ini menunjukkan kebutuhan teknologi dalam negeri masih sangat besar sekaligus membuka peluang bagi industri nasional untuk meningkatkan daya saing dan substitusi impor,” jelasnya.
Di sisi lain, produk alsintan dalam negeri mulai diminati pasar global, termasuk traktor tangan dan mesin pertanian portable. Meski nilai ekspornya masih kecil, hal ini merupakan sinyal positif yang harus didorong melalui peningkatan kualitas dan inovasi produk serta perluasan pasar.
Menurut Doddy, saat ini terdapat sekitar 191 perusahaan industri alat dan mesin pertanian di Indonesia yang menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja, dengan mayoritas merupakan industri kecil dan menengah. Industri besar juga berperan sebagai tulang punggung terutama di wilayah Jawa, Sumatera, dan beberapa provinsi lain.
Sebagai penutup, Doddy Rahadi mengajak seluruh peserta pameran untuk memanfaatkan kesempatan ini memperluas jejaring, memperkuat kemitraan, dan bersama-sama mempercepat kemajuan industri alat mesin pertanian dan pupuk demi ketahanan pangan nasional serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Inagritech dan Chemical Indonesia 2025 harus memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara. Selamat mengikuti pameran,” pungkasnya.

