KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA, 5 Mei 2026 — Upaya memperkuat kemandirian energi nasional terus didorong melalui optimalisasi pemanfaatan gas bumi sebagai alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan. Isu ini menjadi fokus dalam talkshow dan press conference bertema “CNG & LNG Untuk Rakyat: Solusi Nyata Substitusi LPG & Swasembada Energi Nasional” yang berlangsung Selasa (5/5) di Energy Hub, Epiwalk Lt.6 Suites B-603, Kuningan, Jakarta.
Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor energi, mulai dari regulator hingga kalangan pengusaha, untuk merumuskan langkah konkret dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG melalui pemanfaatan sumber daya gas domestik.
Dalam kesempatan tersebut, Director PT Java Energy Semesta (JES), Fabekyus Kasmansyah, menyoroti besarnya potensi gas alam nasional yang belum dimanfaatkan untuk domestik secara optimal.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 6 hingga 8 juta ton LPG untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dari total tersebut, sekitar 79 persen merupakan LPG bersubsidi, yang menyebabkan beban fiskal negara terus meningkat seiring dinamika harga energi global.
“Ketergantungan pada LPG impor membuat tekanan terhadap anggaran subsidi semakin besar, padahal Indonesia memiliki cadangan gas yang dapat dimanfaatkan secara mandiri,” ujarnya.
Fabekyus mengungkapkan, pemerintah saat ini mengalokasikan subsidi energi dalam jumlah signifikan, bahkan mencapai kisaran Rp117 triliun, terutama untuk LPG. Menurutnya, sebagian anggaran tersebut berpotensi dialihkan untuk mendorong pengembangan infrastruktur distribusi gas alam dalam bentuk Jaringan Gas Kota (Jargas), compressed natural gas (CNG) dan liquefied natural gas (LNG) sebagai bentuk alternatif yang lebih efisien dan berbasis sumber daya dalam negeri.
“Jika sebagian subsidi itu dialihkan untuk pengembangan infrastruktur gas, dampaknya akan jauh lebih efektif dan efisien. Kita tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional,” jelasnya.
Fabekyus juga menyoroti bahwa selama ini masih terdapat potensi gas yang belum dimanfaatkan untuk domestik, selama ini lebih banyak diekspor, karena infrastruktur domestik belum memadai. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan infrastruktur, pemanfaatan gas alam dengan moda transportasi CNG dan LNG dapat menjadi solusi nyata dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Ia menambahkan, di tengah tren kenaikan harga minyak dunia, transformasi menuju penggunaan CNG dan LNG menjadi semakin relevan. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis dari pemerintah untuk mempercepat pengembangan infrastruktur distribusi gas agar dapat menjangkau sektor rumah tangga maupun industri secara luas.
Sebagai tambahan informasi, LPG sejatinya juga merupakan bagian dari gas alam, namun berbentuk campuran gas propana (C3H8) dan butana (C4H10) yang dicairkan dalam tabung dan akan kembali menjadi gas saat dilepas ke udara. Sementara itu, gas metana (CH4) sebagai komponen utama gas bumi umumnya disalurkan dalam bentuk gas melalui pipa atau dikompresi dalam bentuk CNG, serta dapat dicairkan menjadi LNG untuk kebutuhan distribusi tertentu.
Melalui forum ini, diharapkan terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mempercepat transisi energi menuju pemanfaatan gas bumi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus memperkokoh kemandirian energi Indonesia.

