Skip to content
KompasIndo
Menu
  • Home
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu

Murnikan Panji Sejarah Haluoleo hingga ke Anak Cucu

Posted on 19 Juli 2025

Kajian Silsilah dan Jejak Kepahlawanan Leluhur Suku Tolaki Berdasarkan Warisan Lontara, Cerita Rakyat, dan Data Empiris

Kajian dan penulisan oleh:
Dr. Yusuf Tawulo, M.M., M.H.

JAKARTA, KOMPASINDO.CO.ID, 19 Juli 2025 – Dalam upaya melestarikan sejarah dan warisan budaya Suku Tolaki yang berakar kuat di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, Dr. Yusuf Tawulo, M.M., M.H., menyusun sebuah kajian silsilah dan sejarah panjang keluarga besar Tolaki. Kajian ini berangkat dari kebutuhan untuk merekonstruksi dan memurnikan kembali catatan garis keturunan serta sosok sentral dalam peradaban Tolaki, yakni Haluoleo.

Kajian ini disusun berdasarkan cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun, data empiris dari berbagai sumber keluarga, serta lontara kuno milik almarhum Haji Moh. Saleh, seorang tokoh sipil AURI era 1950–1960-an yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya Sulawesi Tenggara. Lontara tersebut memuat informasi historis mengenai asal usul, makna simbolik, serta perjalanan tokoh-tokoh penting Suku Tolaki dari masa ke masa.

Dalam lontara dan catatan tradisi lisan masyarakat Tolaki, nama Haluoleo memiliki arti “delapan hari” dalam bahasa Tolaki. Nama ini bukan sekadar penamaan, melainkan simbol dari kesaktian dan kecepatan dalam bertindak. Haluoleo dikenal sebagai tokoh sakti mandraguna, pemimpin yang tangguh, dan ahli strategi perang. Dalam berbagai pertempuran melawan musuh, termasuk di wilayah Buton, Muna, dan Moronene, ia selalu menjadi garda terdepan. Karena ketangguhan dan jasa-jasanya, Haluoleo mendapatkan gelar bangsawan dari kerajaan atau masyarakat adat setempat.

Nama Haluoleo tidak hanya menjadi kebanggaan internal Suku Tolaki, tetapi juga menjadi lambang pemersatu dan penghormatan lintas suku. Sosoknya mengandung makna historis dan nilai filosofis yang mendalam. Oleh karena itu, sejarah tentangnya tidak boleh terlupakan, melainkan harus ditulis ulang, dijaga, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga:  Kepala Bappedalitbang Bulungan Iwan Sugiyanta: 34 Produk UMKM Lolos Kurasi Sarinah, Target Semua 74 Produk Tembus Pasar Nasional

Untuk memperkuat kajian ini, penelusuran dilakukan mulai dari manusia pertama Suku Tolaki, yaitu Onggabo atau Danggo Wula, yang menikah dengan Anawai Sangia. Dari keduanya lahir keturunan yang menjadi cikal bakal perluasan keluarga besar Tolaki. Anak-anak mereka di antaranya adalah Tendri Rawe (Wekoila), Wendoara, Tori Somba (Sangia Paralu), Nggabo Mekalo, Tori Somba Sinomba, dan Sangia Seri (Sanggoleo Mbae).

Garis keturunan ini berlanjut melalui Tori Somba, yang kemudian melahirkan Tori Somba Lamoa, lalu Tori Somba Lamoa menikah dengan Anawai Melangge dan melahirkan Rundulangi atau Sangia Mbinauti. Dari Rundulangi inilah garis keturunan mulai berkembang luas. Ia memiliki dua istri: Mbulanda dan Wealanda, yang merupakan saudara kandung. Dari istri pertama lahirlah Haluoleo, sementara dari istri kedua lahir Buburanda (Raja Latoma), Mokora (Raja Labokeo), Rebi (Raja Inolobu Konawe), Balano, dan Samara.

Mokora, saudara seayah dengan Haluoleo, kemudian menurunkan Tawulo I (Sao Puduria), yang menikah dengan Wendonia dan melahirkan Wua Panggo. Wua Panggo menikah dengan Tepohue, lalu lahirlah Tehoro. Dari Tehoro dan Weriolo, lahirlah generasi yang lebih luas: Tawulo II (Bongo) Baito, Ambelino, Mohandasi, Meronda, Ndora, Namburi Ako, Dadao, Nawali, Waeki, Madito, Balatu, Weule, Dae Pakonggo, dan Wemorane.

Tawulo II (Bongo) Baito menjadi tokoh yang memiliki keturunan paling luas. Ia menikah dengan tujuh istri: Ringgu, Nambali, Wone, Wamenda, Popili, Wenaluri, serta satu istri yang tidak tercatat namanya. Dari Ringgu lahir Langgawue dan Konasongga. Dari Nambali lahir Lulu dan Sarapia. Dari istri ketiga lahir Naletu (Morosi). Dari Wone lahir Kaluku, Tosiasa, Dadao, dan Wetowu. Dari Wamenda lahir Tuolara, Musari, dan Tawado. Dari Popili lahir Konambono, dan dari Wenaluri lahir Tukosamba.

Baca Juga:  Angklung Mawar Merah Putih Indonesia Hibur Ratusan Peserta di Malam Dzikir Puisi untuk Indonesia di UI Depok

Salah satu keturunan dari Wamenda adalah Musari, yang kemudian menikah dengan Kikila dan memiliki anak-anak: Tiembiha (Rate-rate), Biooha (Lawonua), Laumara (Baito), dan Duma (Boro-boro). Dari Biooha dan Wendebila (Besulutu) lahir Arulasa, Rundumo, dan Wekoila. Rundumo menikah dengan Haryisi dan melahirkan delapan orang anak: Dr. Yusuf Tawulo, Usman Tawulo, Sumardin Tawulo, Abdul Tawulo, Suriatin Tawulo, Suhardin Tawulo, Menda Tawulo, dan Almasi Tawulo.

Dr. Yusuf Tawulo kemudian menikah dengan Siti Maryam Samaila dan memiliki enam anak: Serlinda Yunita Sari Tawulo, Dr. Muh. Afdal Nazer Tawulo, Oky Tri Darmawan Tawulo, Eka Fajarwati Tawulo, Eko Tripati Wicaksana Tawulo, dan Ayu Asriana Tawulo.

Kajian ini bersifat sementara dan masih akan dikembangkan. Data yang dipakai saat ini adalah data yang tersedia dalam lingkar keluarga penulis sebagai sampel awal. Dalam tahap selanjutnya, penulisan akan diperluas melalui kajian pustaka, wawancara dengan keturunan lain, serta uji silang dengan berbagai sumber sejarah, baik lisan maupun tertulis.

Berdasarkan kajian awal serta referensi dari para ahli seperti Prof. Dr. Rustam Tamburaka, M.Sc dan Prof. Dr. Rauf Tarimana, dapat disimpulkan bahwa persebaran Suku Tolaki di seluruh wilayah Jazirah Tenggara bersumber dari satu nenek moyang yang sama, yakni dari Onggabo hingga Rundulangi, lalu berkembang hingga generasi saat ini.

Penulisan sejarah ini adalah bagian dari tanggung jawab intelektual dan budaya untuk memastikan bahwa generasi muda Suku Tolaki dapat mengenal identitasnya secara utuh dan benar. Sejarah bukan hanya narasi masa lalu, tetapi juga fondasi arah masa depan.

Melalui tulisan ini, diharapkan tidak ada lagi generasi yang merasa kehilangan jejak leluhurnya. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk bersatu kembali dalam rumpun besar yang sama, dan menghargai warisan sejarah sebagai pijakan untuk membangun nilai-nilai budaya yang lebih kokoh di masa depan.

Baca Juga:  Launching UMKM Bulungan di Sarinah Jakarta 2026: Bupati Syarwani Dorong 12 Ribu UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Nasional

Penulis menyampaikan bahwa jika ada kekurangan atau kekeliruan dalam penyusunan silsilah ini, mohon diberikan kritik dan saran yang membangun. Diharapkan juga tidak ada pihak yang merasa tersinggung apabila leluhurnya belum tercantum, karena kajian ini baru tahap awal dan terbuka untuk dilengkapi melalui kolaborasi bersama keluarga besar Tolaki di seluruh penjuru negeri.

Sebagian data berasal dari cerita rakyat, dan sebagian lagi berdasarkan fakta empiris. Dengan demikian, tulisan ini mengandung perpaduan antara nilai sejarah, budaya, dan kajian ilmiah yang dapat dijadikan sebagai titik awal untuk penelitian lanjutan.

 

Pos Terbaru

  • PT International Chemical Industry Raih Transportasi Indonesia Award 2026 Berkat Inovasi Material Baterai Berkelanjutan
  • PELNI Raih Penghargaan The Leading Maritime Connectivity Company of The Year di Transportasi Indonesia Award 2026
  • PT Pelabuhan Cilegon Mandiri Raih Transportasi Indonesia Award 2026, Bukti Komitmen Tingkatkan Layanan Kepelabuhanan Nasional
  • PT Bagong Dekaka Makmur Borong Dua Penghargaan di Transportasi Indonesia Award 2026, Budi Susilo: Jadi Motivasi Tingkatkan Layanan
  • Tempe Park Bogor Hadirkan Wisata Edukasi Tempe dan Destinasi MICE, Targetkan Buka Akhir 2026
  • Holiday Inn Express Semarang Simpang Lima Bidik Pasar Wisatawan Mancanegara Lewat IBEM 2026
  • Harris Hotel & Convention Serpong Tampil Perdana di IBEM 2026, Siap Jadi Destinasi Utama MICE di Tangerang
  • DISKOVERA DMC Promosikan Bali, Labuan Bajo, dan Sumba di IBEM 2026, Perkuat Posisi Indonesia sebagai Destinasi MICE Dunia
  • Wellous Indonesia Sabet APEA 2026 Fast Enterprise Award, Henry Yotania Tegaskan Kesuksesan Berkat Kolaborasi Seluruh Tim
  • APKIDA Perkuat Hilirisasi Industri Kimia Indonesia di Chemical Indonesia 2026, Halim Chandra: Saatnya Tingkatkan Produk Bernilai Tambah
Seedbacklink
©2026 KompasIndo | Design: Newspaperly WordPress Theme