KOMPASINDO.CO.ID, JAKARTA – Guru Besar Filsafat Islam Kontemporer Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Ernita Dewi, S.Ag., M.Hum., mengungkapkan rasa syukur setelah menerima Keputusan Menteri Agama (KMA) Guru Besar Rumpun Ilmu Agama yang diserahkan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dalam acara Penyerahan KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode III Tahun 2025 di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Bagi Prof. Ernita, gelar profesor merupakan capaian akademik tertinggi yang hanya dapat diraih melalui proses panjang, kerja keras, dan ketekunan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjadi guru besar bukan semata-mata karena kecerdasan, melainkan juga membutuhkan konsistensi dalam berkarya ilmiah serta semangat untuk bangkit dari berbagai kegagalan.
“Menurut saya, guru besar adalah prestasi akademik yang paling tinggi di tingkat universitas. Kami sangat bahagia memperoleh gelar ini karena untuk mencapainya tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran, tetapi juga membutuhkan usaha, kesungguhan, dan kemauan yang sangat kuat. Ada banyak tahapan yang harus dilalui dan semuanya tidak mudah,” ujarnya kepada awak media.
Perjalanan menuju jabatan profesor diakuinya penuh tantangan. Ia mulai mengajukan usulan guru besar sejak 2022, namun pada 2023 pengajuannya belum berhasil karena bidang keilmuan dinilai belum linier. Di saat yang sama, artikel ilmiah yang dikirim ke jurnal internasional bereputasi Scopus juga beberapa kali mendapat penolakan.
“Saya memulai proses sejak 2022. Pada 2023 saya sempat gagal karena topik keilmuan dianggap belum linier. Setelah itu saya terus berusaha mengirim artikel ke jurnal Scopus, tetapi beberapa kali ditolak. Jujur, kondisi itu membuat saya hampir stres dan sempat berpikir untuk berhenti karena merasa mungkin saya memang tidak pantas menjadi profesor,” tuturnya.
Namun kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Berkat kegigihan dan kerja keras, pada 2025 artikel ilmiahnya akhirnya diterima dan dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Scopus, yang menjadi salah satu syarat utama pengajuan guru besar.
“Alhamdulillah, pada akhirnya Allah memberikan jalan. Saya berhasil memperoleh publikasi Scopus dan proses pengajuan guru besar dapat diselesaikan. Ini merupakan perjuangan yang sangat panjang dan mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyerah dalam berusaha,” katanya.
Untuk menjadi profesor, seorang akademisi wajib memenuhi berbagai persyaratan ketat, salah satunya memiliki publikasi ilmiah bereputasi internasional yang umumnya terindeks Scopus atau Web of Science dengan kategori kuartil tinggi seperti Q1 atau Q2. Dalam banyak kasus, akademisi juga dituntut menjadi penulis utama (first author atau corresponding author), selain memenuhi persyaratan angka kredit, rekam jejak penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kualitas pengajaran.
Prof. Ernita menilai gelar profesor bukan sekadar simbol prestise akademik, melainkan amanah besar untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebagai akademisi perempuan, ia mengakui tantangan yang dihadapi semakin besar karena harus mampu menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan kehidupan keluarga. Meski demikian, hal tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berkarya.
“Sebagai perempuan, kami tidak hanya memikirkan pekerjaan di kampus, tetapi juga tanggung jawab dalam keluarga dan rumah tangga. Karena itu, kami harus terus memotivasi diri agar tidak menyerah. Hari ini kami benar-benar merasakan bahwa perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil,” ungkapnya.
Ke depan, Prof. Ernita berkomitmen mengembangkan kajian filsafat Islam kontemporer agar mampu menjawab berbagai tantangan zaman, mulai dari perkembangan teknologi digital, media sosial, perubahan karakter Generasi Z, isu moralitas, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan identitas kebangsaan dan keislaman.
“Bagi saya, profesor bukan hanya soal jumlah atau gelar, tetapi bagaimana kualitas dan kontribusinya kepada masyarakat. Di bidang filsafat Islam kontemporer banyak isu yang perlu mendapat perhatian, mulai dari perkembangan Generasi Z, digitalisasi, moralitas, isu-isu perempuan, hingga pengembangan keilmuan di perguruan tinggi,” jelasnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang sangat cepat harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai Islam dan karakter kebangsaan agar generasi muda mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri.
“Kita ingin masyarakat terus berkembang mengikuti perubahan zaman, tetapi tetap menjaga identitas keislaman dan identitas kebangsaan. Generasi muda Indonesia harus mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai moral, budaya, dan karakter bangsa. Di situlah saya ingin memberikan kontribusi melalui pengembangan filsafat Islam kontemporer,” tuturnya.
Di akhir keterangannya, Prof. Ernita mengajak para dosen, khususnya akademisi perempuan, untuk tidak takut menghadapi tantangan dalam mengejar jabatan akademik tertinggi.
“Jangan pernah berhenti berusaha hanya karena mengalami kegagalan. Saya menjadi saksi bahwa perjuangan yang panjang, penuh penolakan, dan melelahkan akhirnya dapat berbuah manis. Semoga pengalaman ini menjadi motivasi bagi para akademisi untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

